IGRS Jadi Panduan Guru dan Orang Tua Ubah Stigma Game

Sesditjen Aptika, Sadjan, saat memberikan materi di acara Seminar Bekasi Bermain Sambil Belajar (01/09).

Bekasi, Ditjen Aptika – Guru dan orang tua memiliki peran penting mengubah stigma game dari ancaman menjadi manfaat. Internet Game Rating Sistem (IGRS) dapat menjadi acuan memilih permainan yang tepat bagi anak.

“Para guru dan orang tua yang hadir disini harus bisa mengenal lebih jauh tentang game, tentang klasifikasinya, dan tentunya manfaat dari game itu sendiri. Semakin banyak orang yang paham, maka kita bisa merubah stigma game tidak hanya sebagai ancaman untuk anak kita tapi menjadi manfaat,” ujar Sekretaris Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika, Sadjan, saat acara Seminar Bekasi Bermain Sambil Belajar di Gedung Patriot Bekasi, Minggu (01/08/2019).

Sadjan juga menjelaskan bahwa Kementerian Kominfo dalam rangka membuat klasifikasi permainan elektronik, menyusun IGRS yang merupakan implementasi dari PM Kominfo Nomor 11 Tahun 2016. IGRS sendiri memiliki fungsi sebagai sistem klasifikasi untuk merating games sesuai usia.

“IGRS dapat menjadi panduan bagi para guru dan orang tua untuk memilih game yang tepat sesuai dengan usia anak,” ujarnya.

Sadjan kemudian menjabarkan kesesuaian konten dengan kelompok usia, sebagai berikut:

  1. Untuk usia 3 tahun atau lebih: Tidak ada konten yang tidak pantas dan mengkhawatirkan, tapi tetap memerlukan pendampingan orang tua;
  2. Untuk usia 7 tahun atau lebih: Terdapat konten yang menampilkan unsur darah yang tidak menyerupai warna darah asli, memerlukan bimbingan orang tua;
  3. Untuk usia 13 tahun atau lebih: Terdapat konten yang mengandung sedikit unsur kekerasan, memerlukan bimbingan orang tua;
  4. Untuk usia 18 tahun atau lebih: Terdapat konten yang mengandung unsur kekerasan, darah serta horor;
  5. Kelompok semua usia yang dimulai dari usia 7 tahun.

    Antusiasme peserta mengikuti seminar.

“Adanya IGRS ini bertujuan untuk meningkatkan peran orang tua dalam memberikan pengawasan dan pendampingan dalam memilih games yang sesuai usia untuk anak, sekaligus sebagai tolok ukur bagi game developer dalam memasarkan games di Indonesia sesuai norma budaya di Indonesia,” pungkas Sadjan.

Acara Seminar Bekasi Bermain Sambil Belajar terselenggara atas kerja sama Ditjen Aptika Kementerian Kominfo dengan komunitas NXG Indonesia. Acara ini juga dihadiri oleh Sekretaris Pemkot Bekasi, Reny Hendrawati. (lry)