Inklusi Keuangan Berbasis Fintech Bantu Pemulihan Ekonomi Nasional

Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam peluncuran Indonesia Fintech Society, Senin (09/11/2020).

Jakarta, Ditjen Aptika – Inklusi keuangan memiliki peranan penting untuk membantu percepatan pemulihan ekonomi nasional. Salah satunya melalui pembiayaan berbasis financial technology (fintech).

“Sebagai contoh, diperkirakan lima juta agen fintech telah melayani layanan keuangan digital kelompok pedesaan,” ujar Menko Perekonomian, Airlangga Hartato dalam peluncuran Indonesia Fintech Society, Senin (09/11/2020).

Seperti diketahui, pandemi Covid-19 telah memberi dampak pada perekonomian global termasuk Indonesia. Pemerintah telah memanfaatkan fintech dalam memberikan bantuan perlindungan sosial pada masyarakat terdampak.

Penyaluran bantuan tersebut dilakukan secara terbatas (regulatory sandbox). “Inovator dan fintech dapat melakukan kegiatan dengan diawasi OJK,” ungkap Airlangga.

Selain itu, pemerintah memberikan dana secara digital untuk program Keluarga Harapan dan Kartu Prakerja. Ditambah pula bantuan subsidi bunga bagi usaha rakyat dalam bentuk kredit dan non kredit.

Pemerintah juga mendorong program Keluarga Harapan sebesar 25 persen kepada 10 juta keluarga. “Bantuan modal kerja yang diberikan sebesar 12 juta usaha mikro kecil dalam bentuk bantuan presiden tunai yang disalurkan secara digital melalui transfer rekening dengan masing-masing memperoleh 2,4 juta,” katanya.

Fintech nantinya akan semakin berperan dalam digitalisasi layanan keuangan. “Saat ini fintech telah mencapai 76 persen target inklusi keuangan. Harapannya pada tahun 2024, target 90 persen dapat dicapai sesuai pesan Presiden Jokowi,” tambah Airlangga.

Lihat Juga: Fintech Bantu Capai Target Inklusi Keuangan 90% pada Tahun 2024

Namun demikian, digitalisasi layanan keuangan tentunya membutuhkan infrastruktur yang lebih kuat terutama dalam hal know your client (KYC) dan open banking API.

“Kita terus mendorong untuk bisa mengurangi talent gap dalam layanan keuangan digital dan tentunya diperlukan ekosistem yang kondusif, kolaborasi lintas sektor dan inisiatif yang terus dilakukan,” tutur Airlangga.

Sementara itu Deputi Gubernur Bank Indonesia, Sugeng menambahkan populasi penduduk generasi muda Indonesia sangat banyak dengan animo masyarakat terhadap teknologi digital relatif tinggi. Jumlah UMKM Indonesia juga sangat besar. Hal ini bisa menjadi potensi Indonesia untuk meningkatkan inklusi keuangan.

Potensi ini bisa dikembangkan pada pasar ekonomi digital Indonesia. “Saat ini volume transaksi e-commerce masih mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi,” jelasnya.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Sugeng saat menyampaikan pertumbuhan volume transaksi e-commerce (09/11).

“Transaksinya berubah dari belanja yang bersifat keinginan menjadi kebutuhan. Fintech telah menangkap peluang ini, karena sebagian besar transaksi menggunakan fintech sebagai metode pembayaran,” ungkapnya.

Sugeng mengatakan fintech telah membantu penurunan biaya dari pelayanan yang diberikan. “Seperti menurunkan biaya transfer dan diskon,” ucapnya.

“Langkah yang dilakukan fintech tersebut telah membantu potensi Indonesia untuk meningkatkan inklusi keuangan dalam percepatan pemulihan ekonomi nasional,” tutup Sugeng. (pag)