Digitalisasi Jadi Solusi bagi Industri Olahraga saat Pandemi

Staf Ahli Kemenkominfo, Henri Subiakto (kanan) saat Webinar Pemanfaatan Internet dan Digitalisasi untuk Industri Olahraga, Kamis (01/10/2020).

Jakarta, Ditjen Aptika – Industri olahraga terkena dampak pandemi Covid-19, baik bagi pelaku maupun penonton industri tersebut. Digitalisasi dapat menjadi solusi agar aktivitas olahraga bisa tetap terus berjalan.

“Pandemi Covid-19 menyebabkan banyak pertandingan olahraga tertunda, jika terpaksa diadakan juga harus tanpa penonton. Digitalisasi menjadi solusi agar masyarakat tetap bisa mengikuti dan menonton pertandingan olahraga secara daring,” terang Staf Ahli Bidang Hukum Kemenkominfo, Henri Subiakto, saat Webinar Pemanfaatan Internet dan Digitalisasi untuk Industri Olahraga, Kamis (01/10/2020).

Dari sisi penonton atau penikmat olahraga, masyarakat dapat menonton berbagai jenis olahraga secara virtual melalui siaran live streaming. “Liga-liga sepakbola Eropa, Tour de France, Wimbledon, dan US Open saat ini dapat dinikmati dari rumah,” tandas Henri.

Namun untuk dapat menikmati hal tersebut dibutuhkan internet dengan kecepatan tinggi. Oleh karenanya sesuai arahan percepatan transformasi digital oleh Presiden Jokowi, pemerintah akan terus memperbaiki infrastruktur TIK.

Lihat juga: Empat Fokus Kebijakan Pemerintah untuk Percepatan Transformasi Digital

Sedangkan dari sisi pelaku olahraga, latihan tidak lagi perlu dilakukan secara terpusat dalam satu tempat. Teknologi digital telah memungkinkan para atlet untuk bisa latihan secara mandiri dengan bimbingan pelatih secara virtual.

“Selain atlet, masyarakat yang ingin melakukan aktivitas olahraga juga bisa melakukan aktivitas tersebut secara mandiri di rumah dengan menggunakan aplikasi-aplikasi olahraga. Banyak aplikasi yang tersedia secara daring, seperti senam, gym, zumba, yoga, pilates, dan high intensity interval training,” info Henri.

Berbagai macam jenis aplikasi untuk olahraga di rumah (1/10).

Selain berbagai jenis aplikasi, ada juga teknologi-teknologi yang dapat menunjang olahraga. Seperti fitness tracker, smartwatch, tablet, dan aplikasi workout. Teknologi-teknologi itu memiliki fungsi beragam, mulai dari menghitung jarak dan durasi olahraga, hingga membuat target tertentu.

Henri yang juga Guru Besar FISIP Universitas Airlangga kemudian menjelaskan keuntungan memanfaatkan teknologi digital dalam melakukan aktivitas olahraga, seperti:

  1. Memberi informasi yang detail,
  2. Mencari referensi dengan mudah,
  3. Menyediakan aplikasi olahraga yang membantu,
  4. Membuat diri termotivasi untuk berolahraga, dan
  5. Membuat penampilan diri lebih keren.

Namun di tengah pandemi, ia juga menghimbau bagi masyarakat yang akan melakukan olahraga untuk memperhatikan protokol kesehatan. “Hindari olahraga pada tempat ramai, hindari dahulu olahraga jika merasa kurang fit, dan selalu menggunakan masker,” pungkasnya.

Sementara itu Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Chandra Bhakti menyoroti perkembangan bidang baru dalam olahraga yaitu electronic sport (e-sport). “Jika kita bicara soal olahraga di era digitalisasi, contoh konkretnya ialah e-sport,” ujarnya.

Tahun 2021 e-sport akan ditetapkan pemerintah (Bappenas dan KSP) sebagai salah satu program unggulan industri olahraga era digitalisasi. E-sport audience growth sendiri terus meningkat dari 2017 hingga saat ini.

Penonton e-sport diproyeksikan akan terus meningkat (1/10).

“Saat ini dunia gaming berubah menjadi potensi yang menjanjikan dan lebih kompetitif berkat kehadiran e-sport. Segala manfaat e-sport yang bisa didapat pun berhasil mematahkan stigma buruk tentang games,” ungkapnya.

Menghadapi pandemi Covid-19 ini pemerintah perlu mempercepat digitalisasi untuk mendorong sektor olahraga. “Melalui kegiatan pelatihan digital maupun pelatihan langsung, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan,” pungkas Chandra. (lry)