Melalui Interopabilitas Data, Kominfo Topang Penyediaan Data Aktual

Tangkapan layar Rapat Kerja Menteri Kominfo dengan Komisi I DPR RI, di Gedung Wisma Nusantara II, Jakarta, Senin (22/6).

Jakarta, Ditjen Aptika – Kominfo melakukan berbagai langkah untuk memangkas atau memutus mata rantai Covid-19 di Indonesia. Seperti Chatbot, SMS blast, portal Covid-19, Call Center 112, 117, dan 119 serta 1.000 mesin IoT akses untuk bangsa yang digunakan oleh Alfamart dan Kimia Farma.

“Kominfo bersama Kementerian BUMN memfasilitasi dan mendukung pelaksanaan SMS blast harian oleh operator seluler untuk diseminasi informasi terkait Covid-19. Total SMS terkirim sampai dengan 31 Mei 2020 sebanyak 2,052 miliar SMS,” ujar Menteri Kominfo Johnny G. Plate saat rapat kerja bersama Komisi I DPR-RI di Gedung DPR RI Senayan, Jakarta, Senin (22/06/2020).

Selain itu, kata Menteri Johnny, Kominfo juga membangun aplikasi Bersatu Lawan Covid-19. Aplikasi tersebut berguna agar seluruh data terintegerasi/terkoordinasi melalui sistem interopabilitas data Gugus Tugas yang menopang penyediaan data aktual untuk informasi publik dalam pengambilan kebijakan.

“Namun, sampe tahun 2023, melalui sistem pembangunan yang disebut interopabilitas data, kita harapkan secara perlahan-lahan konsolidasi data bisa kita lakukan sehingga proses pengambilan keputusannya bisa lebih cepat dan tepat,” paparnya.

Namun demikian, mengingat terjadinya Covid-19, Presiden Jokowi meminta untuk adanya satu data dalam rangka menangani Covid-19 terkait dengan pasien.

“Pemerintah melalui Kementerian Kominfo sedang melakukan interopabilitas dari seluruh data center yang ada. Kami harapkan interopabilitas seluruh data pemerintah dapat selesai dilakukan pada akhir tahun ini,” jelasnya.

Di hadapan Pimpinan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dan seluruh Anggota Komisi I DPR-RI, Menteri Kominfo menyampaikan di Indonesia saat ini terdapat 2.700 data center dan server yang digunakan pemerintah pusat dan daerah.

Dari jumlah tersebut, hanya 3% saja yang memenuhi standar global dan sangat sedikit memanfaatkan cloud computing. “Selebihnya, stand alone sistem yang digunakan sendiri-sendiri di kantor masing-masing sehingga begitu sulit untuk melakukan interopabilitas saat kita menyatukan seluruh datanya,” ujar Johnny.

Oleh karena itu, Menteri Kominfo menyatakan, usaha interopabilitas sudah diuji cobakan melalui aplikasi Bersatu Lawan Covid-19 dan itu berjalan dengan baik.

Lebih lanjut, pada sesi tanya jawab, Menteri Kominfo mengharapkan interopabilitas data ini akan dapat digunakan dan nanti dialihkan seluruhnya pada saat di mana pemerintah mempunyai pusat data sendiri yang independen dan saat ini sudah ada di pipeline-nya Kominfo.

“Mudah-mudahan dengan dukungan dari Komisi I DPR-RI, tahun 2023 bisa kita hasilkan satu pusat data nasional yang menggabungkan seluruh data yang tersebar di pemerintah, melalui kementerian dan lembaga, baik secara hierarkis pusat, daerah, kabupaten/kota dan provinsi,” tutupnya. (hm.ys)