Ribuan Akun Palsu Aktif Sebarkan Hoaks

Ferdinandus Setu (kedua dari kanan) saat Talkshow Media Lab di Dewan Pers, Jakarta (13/08/2019).

Jakarta, Ditjen Aptika – Ribuan akun palsu secara aktif menyebarkan hoaks agar terlihat sebagai fakta. Pemerintah pun terus melakukan pemberantasan hoaks dengan berbagai cara.

“Satu hoaks dapat disebar secara aktif oleh ribuan akun. Sehingga membuat orang percaya bahwa hoaks tersebut seolah-olah adalah fakta,” ujar Ferdinandus Setu, Plt. Kepala Biro Humas Kemkominfo saat Talkshow Media Lab di Gedung Dewan Pers, Jakarta (13/08/2019).

Menurut Ferdinandus Setu yang akrab disapa Nando, apabila hoaks dari akun-akun palsu tersebut menjadi sebuah isu dan dipercaya sebagian orang atau masyarakat, maka tujuan hoaks tersebut dianggap tercapai.

“Penyebaran hoaks bisa mengarah kepada tindakan ujaran kebencian seperti pada saat pemilu kemarin. Penyebaran hoaks didasari kejadian atau pendapat yang dianggap kontra oleh sebuah individu, kelompok, dan sebagainya,” ungkap Nando.

Pemerintah pun, lanjut Nando, terus melakukan pemberantasan hoaks dengan berbagai cara. Misalnya Kominfo menggandeng komunitas Siber Kreasi yang berisi influencer, pegiat konten internet dan pemilik website. Mereka membuat gerakan berinternet secara positif.

Selain itu, Kominfo juga memiliki mesin AIS yang dapat menyaring ribuan akun dan web berisi konten-konten negatif. Namun penyaringan hanya dilakukan terhadap tautan yang disebar secara publik oleh akun-akun tersebut. Pesan pribadi atau direct message di media sosial tidak dilakukan karena melanggar data pribadi per individu.

Lihat Juga: Kepoin Mesin AIS Kominfo

Nando pun memastikan pemerintah terbuka menerima laporan masyarakat dan instansi yang menjadi korban hoaks. Kerjasama dengan badan lain juga dilakukan agar dapat lebih banyak menyaring hoaks, sehingga tidak terjadi penyaringan ganda terhadap satu hoaks.

Sementara itu Narasumber Ketua Presidium Mafindo, Septiaji Eko Nugroho menyatakan, upaya yang dilakukan Indonesia terhadap hoaks sudah lebih baik dari negara lain. “Cek fakta dapat terus berjalan lancar apabila terjadi kerukunan dan solidaritas masyarakatnya,” ujarnya.

Menurut Septiaji, perlu adanya tokoh besar yang menyuarakan pemberantasan hoaks. “Dengan itu, masyarakat akan mengikuti apa yang dilakukan oleh tokoh tersebut,” pungkasnya. (pag)