Kepoin Mesin AIS Kominfo

Taruli (tengah) Kepala Seksi Pemblokiran Konten Internet Ditjen Aptika saat acara TokTok Kominfo

Jakarta, Ditjen Aptika – Mesin Pengais Konten Negatif (AIS) adalah mesin crawling otomatis yang terletak di ruang Cyber Drone 9 Lantai 8 Gedung Kominfo. Mesin yang sudah dioperasikan sejak tanggal 3 Januari 2018 ini dioperasikan oleh tim yang terdiri dari 106 orang yang bekerja maksimal 24 jam non stop dengan sistem 3 shift.

“Ruangan Cyber Drone 9 ini terdiri dari dua ruang utama, Security Operation Center (SOC Room) dan War Room. SOC Room adalah dapur dari segala aktivitas pemantauan dan pengendalian terhadap konten negatif,” jelas Kasi Pemblokiran Konten Internet Ditjen Aptika Taruli saat wawancara dengan tim Tok Tok Kominfo di ruang Cyber Drone 9, Senin (18/02/2019).

Menurut Taruli sistem kerja tim AIS ini ada dua mekanisme. Cara pertama tim akan berpatroli secara rutin 24 jam sehari untuk mengawasi dan mencari konten-konten negatif yang ada di internet. Cara kedua melakukan penindakan berdasarkan laporan-laporan yang datang dari masyarakat melalui berbagai kanal seperti aduankonten.id.

“Untuk masyarakat jangan takut untuk melaporkan konten negatif ke kami karena identitas dari para pelapor akan dijaga kerahasiaannya. Identitas dibutuhkan hanya untuk kepentingan riset dari daerah mana saja laporan tersebut banyak terjadi, kami jamin tidak ada kepentingan politis, intervensi dari pihak manapun dan lainnya,” tegas Taruli.

Konten negatif yang di-crawling dibedakan menjadi dua, yaitu konten negatif di media sosial dan konten negatif di situs. Hingga saat ini sudah hampir 550.000 konten negatif dari media sosial yang diblokir, sedangkan konten negatif yang berbentuk situs sudah mencapai satu juta situs.

Perbedaan mesin AIS dengan pendahulunya Trus+ adalah soal kecepatan waktu dan peningkatan volume secara signifikan. Jika dahulu kerja secara manual hasilnya tidak signifikan, dengan mesin AIS ini kecepatan waktu dan hasil yang diperoleh bisa maksimal mengingat kecepatan penyebaran konten internet sangat tidak terbendung.

Hal penting yang juga harus diketahui adalah bahwa sebelum keberadaan sebuah situs atau konten di internet bisa dilenyapkan, ada proses berlapis yang dilakukan. Proses berlapis ini melibatkan mesin dan manusia.

Proses pertama dilakukan oleh mesin dengan memasukkan kata kunci pencarian. Mesin pemburu bisa menarik jutaan konten sesuai kata kunci dalam sekali kerja. Situs dan konten media sosial yang ditemukan ini lalu akan dilempar ke mesin pendamping yang mengurutkan hasil pencarian berdasarkan dampak, semakin viral atau populer suatu situs dan konten media sosial semakin tinggi ia dinilai berbahaya oleh mesin itu.

Proses kedua adalah sensor manusia. Setelah dampak dihitung selanjutnya mesin akan menangkap layar situs dan media sosial yang didapat mesin. Hasil tangkapan layar itu akan dikirim ke tim verifikator yang sepenuhnya terdiri oleh manusia, dalam hal ini anggota tim AIS. Tim verifikator akan jadi gerbang terakhir yang menentukan apakah situs atau media sosial tersebut pantas untuk disensor oleh pemerintah.

“Kami juga tidak bekerja sendiri, kami bekerjasama dengan berbagai instansi dan lembaga lainnya dalam menghalau konten negatif yang ada di internet, tergantung subtansinya. Jika ada konten negatif terkait Pemilu kita kerjasama dengan Bawaslu, jika tekait kesehatan dengan BPPOM, jika terkait radikalisme dengan BNPT, ada memorandum of action dengan instansi-instansi tersebut,” ungkap Taruli.

Laporan mengenai konten negatif dapat diberikan melalui:

Situs: aduankonten.id
Whatsapp: 08119224545
Twitter: @aduankonten
E-mail: aduankonten@mail.kominfo.go.id

Taruli mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada masyarakat yang sudah membantu tim AIS selama ini dalam menangkal konten-konten negatif di internet. “Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi,” tutupnya. (lry)