Jelang Pilkada, Masyarakat agar Hati-Hati Terhadap Hoaks

Para peserta webinar Smart Netizen Turn Back Hoax pada aplikasi Zoom, Rabu (21/10/2020).

Jakarta, Ditjen Aptika – Menuju masa Pilkada 2020, masyarakat dihimbau agar berhati-hati terhadap berita bohong (hoaks) atau konten negatif lainnya yang kerap muncul.

“Kita harus memastikan keaslian informasi yang didapatkan agar tidak mudah tersulut oleh hoaks. Seperti diketahui, situasi saat ini sebagian orang akan mudah terprovokasi,” ujar Sekdis Kominfostandi Kota Bekasi, Nia Aminah Kurniati dalam webinar dari Museum Penerangan, Smart Netizen Turn Back Hoax melalui aplikasi Zoom, Rabu (21/10/2020).

Sikap hati-hati terhadap suatu informasi bukan hanya untuk masyarakat dewasa, tapi juga anak-anak. “Sebagai orang tua, kita juga harus memantau penggunaan media sosial anak-anak kita,” lanjut Nia.

Masyarakat yang kerap terprovokasi dengan hoaks adalah masyarakat yang jarang mengkonsumsi berita. Literasi digital merupakan cara yang tepat untuk meningkatkan kepedulian masyarakat.

“Jangan sampai kita terpecah belah hanya karena hoaks. Banyak membaca atau mencari informasi bisa menghindarkan kita dari perpecahan semacam itu,” ungkap Nia.

Ada sejumlah langkah agar masyarakat dapat membedakan hoaks dan mana berita yang benar. “Biasanya berita hoaks memiliki judul provokatif dan berasal dari situs yang kurang familiar. Setelah bisa mengidentifikasi dua hal tersebut, kita bisa mengecek keaslian foto dan mencari berita yang sama di situs lain,” katanya.

Ia pun menghimbau agar masyarakat lebih baik lagi jika aktif mengikuti diskusi atau media anti hoaks agar terhindar dari hoaks dan konten negatif lainnya.

Berikut adalah daftar beberapa situs agar masyarakat bisa melaporkan konten negatif yang ditemukan.

  1. aduankonten.id,
  2. turnbackhoax.id,
  3. Twitter @aduankonten, @BSSN_RI, @turnbackhoax dan @CCICPolri
Sekdis Diskominfostandi Kota Bekasi, Nia Aminah saat memberikan paparan pada webinar (21/10).

Nia berpendapat masyarakat harus mampu menahan diri memulai konflik, mengejek orang lain, atau bersikap terlalu ekstrem agar tidak terjadi perpecahan yang menimbulkan konten negatif di internet terutama media sosial.

“Karena saat ini masyarakat lebih senang mengetahui suatu informasi dari media sosial dibanding media lainnya,” tuturnya.

Lihat juga: Jaga Kualitas Demokrasi, Menkominfo Ajak Masyarakat Tidak Kampanye Hoaks

Sementara itu Ketua Umum Siberkreasi, Yossi Mokalu menjelaskan melalui literasi digital masyarakat dapat bersama-sama mencerdaskan kehidupan bangsa dalam bidang digital.

“Dalam kehidupan bernegara, mencerdaskan kehidupan bangsa itu tugas bersama bukan hanya pemerintah,” ucapnya.

Sependapat dengan Nia, di masa saat ini penting sekali untuk selalu kritis terhadap suatu informasi. “Bukan hanya menyikapi apa yang datang, tapi sikapi diri juga (evaluasi) apakah kita sudah menyebarkan suatu yang positif atau belum di internet,” sarannya.

Selain penyebaran hoaks, saat ini belum banyak masyarakat yang sadar bahwa mereka menjadi perundung (bully). Sebagian besar merasa perkataan yang dilontarkan di internet adalah candaan biasa. “Padahal termasuk kedalam konten negatif,” tambahnya.

Lihat juga: Norma di Ruang Digital Tidak Berbeda dengan Ruang Fisik

Yossi memberikan beberapa langkah untuk masyarakat dapat ikut mencerdaskan kehidupan bangsa melalui literasi digital. “Pertama kita harus jadi contoh untuk menyebarkan konten yang positif di internet, misalnya pada media sosial kita,” katanya.

“Lalu kita harus mampu belajar dari pengalaman, baik pengalaman pribadi atau bukan. Kita harus mampu melihat dampak yang ditimbulkan dari kasus konten negatif yang pernah ada,” lanjutnya.

Setelah kedua langkah tersebut dilakukan, barulah seseorang atau sekelompok masyarakat dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas lagi.

“Literasi digital harus dilakukan terus menerus. Melalui langkah ini kita bisa mengajak masyarakat agar lebih cerdas. Dengan begitu, kita dapat membantu mencerdaskan kehidupan bangsa,” pungkasnya. (pag)