Podcast: Bicara Lebih Dekat dengan Dirjen Aptika

Dirjen Aptika, Semuel A. Pangerapan saat sesi foto bersama Biro Humas Kemkominfo (2019).

Jakarta, Ditjen Aptika – Semuel Abrijani Pengerapan, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI merupakan direktur jenderal kedua di Indonesia yang berasal dari latar belakang swasta/non pns.

Sebelum menjadi Dirjen Aptika, Semuel memiliki 20 tahun pengalaman memimpin bisnis di bidang telekomunikasi, serta aktif di organisasi nasional maupun internasional yang ada kaitannya dengan tata kelola dan pemanfaatan internet.

Dalam kesempatan podcast kali ini Dirjen yang akrab disapa Semmy tersebut bercerita kepemimpinan seperti apa yang diterapkan untuk dapat memberi ruang bagi anggota tim berkembang, pengalaman mencari solusi dari sebuah permasalahan yang melibatkan multistakeholder, dan bagaimana pentingnya semangat kolaborasi untuk mencapai sebuah visi.

Selama kepemimpinannya di kementerian yang menjadi wadah bagi startup digital Indonesia, ia selalu melibatkan anak muda untuk berdiskusi bersama tentang apa yang dapat dilakukan untuk startup dan pemerintah dapat bergerak bersama. Bagaimana membuat inovasi yang dapat berdampak secara masif dengan kolaborasi.

Selain itu, Semmy juga bercerita pengalaman dalam mempimpin acara internasional yang hampir batal karena minimnya dana dan dukungan, hingga mencatatkan sebagai acara paling sukses selama acara tersebut diadakan.

Dirjen Aptika, Semuel A Pangerapan (kanan) saat melakukan podcast Cakap Startup (2/8).

Berikut petikan wawancara dalam podcast Cakap Startup bersama Ditjen Aptika, Semuel A. Pangerapan:

Host:

“Sewaktu bapak berada di dalam Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pernah mendapat mandat untuk menjadi penanggung jawab acara Internet Governance Forum (IGF) dan hampir gagal, tetapi tidak disangka acaranya justru malah jadi acara tersukses sepanjang sejarah pelaksanaan IGF, bisa bapak ceritakan?”

Semmy:

“Ini ceritanya seru, awalnya Indonesia ditunjuk dan sudah mendeklarasikan ingin menjadi tuan rumah acara IGF. Kami sudah melakukan persiapan dan sudah dilakukan budgeting oleh pemerintah, tetapi pada tahun yang sama ternyata juga ada dua acara besar,” cerita Semmy.

Semmy lanjut bercerita, jika pada saat itu acara terancam batal karena tidak adanya dana, sedangkan untuk pelaksanaan acara dibutuhkan setidaknya 1 juta US Dollar. Sampai kurang 6 minggu kita masih belum tahu acara ini jadi atau tidak. Surat konfirmasi sudah datang menanyakan karena harus ada plan B jika Indonesia batal menjadi tuan rumah,” ungkapnya.

Semmy terus berpikir memutar otak bagaimana caranya agar acara tetap berlangsung, karena bagaimanapun juga nama baik bangsa Indonesia dipertaruhkan. “Saya akhirnya menghubungi stakeholder nasional seperti Telkom, Ayana, maupun stakeholder internasional seperti Facebook, Google, dan lainnya. Kita tulis juga ke presiden pada waktu itu (SBY), dan direspon oleh Wakil Presiden Budiono melalui staf khususnya. Akhirnya diputuskan acara ini jadi,” tuturnya.

Ajaibnya uang terkumpul bahkan lebih dari 1 juta US Dollar. Meskipun uang sudah terkumpul, masih ada kendala teknis lainnya. Mulai dari masalah hubungan internasional yang masih belum dimiliki beberapa negara seperti Israel hingga masalah visa.

“Kita harus menjamin keamanan, bagaimana para perwakilan dari negara-negara tersebut selama di Indonesia tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum di Indonesia. Kita make sure dan track semua agar acaranya dapat berlangsung dengan baik dan secara nasional kita tidak dirugikan justru diuntungkan,” ujarnya.

Ternyata acara tersebut mencetak sejarah menjadi penyelenggaraan IGF tersukses dalam hal jumlah peserta, dengan 300 peserta. Acara IGF pada tahun 2009 tersebut juga menjadi trademark acara tersebut. Saat itu Indonesia membuktikan migrasi IP version Six.

“IP version six tersebut kita jalankan, semua network-nya kita buat dan demonstrasikan. Sehingga penyelenggaraan Indonesia menjadi trademark dan sangat sukses,” ungkap Semmy.

Host:

“Bagaimana cara bapak sebagai pemimpin atau penanggung jawab di kala itu dalam menghadapi tantangan-tantangan yang ada?”

Semmy:

“Karena saya saat itu sebagai penanggung jawab, ketika mendapat hambatan yang saya lakukan tentu bagaimana membakar semanagat rekan-rekan agar tidak menyerah. Jangan sampai moral turun dan tidak mau melangkah,” jawab Semmy.

Semmy mengungkapkan pada saat itu yang dipertaruhkan sangat besar, bukan hanya nama baik APJII, bukan nama baik Semuel atau rekan-rekan yang bekerja, tapi nama bangsa dan negara Indonesia.

“Saya tidak mengambil keputusan menyerah karena tidak ada dalam kamus saya. Batal itu worst case, itu pun harus ada mitigasinya untuk menyelematkan nama baik bangsa Indonesia. Saya seperti dansa poco-poco, maju selangkah mundur dua langkah, tapi lama-lama terbiasa dan bisa maju,” katanya.

Semmy juga bercerita dalam memimpin dirinya mengambil prinsip egaliter. Ketika suatu sistem sudah terbangun dan fungsinya sudah ada, menurutnya semua harus menjalankan sesuai fungsinya masing-masing.

Teamwork penting, tetapi tetap harus menjalankan fungsinya. Fungsi-fungsi ini juga harus harus tahu ke mana akan melangkah. Jangan sampai dalam suatu sistem fungsinya memiliki tujuannya sendiri-sendiri, bisa kacau,” sarannya.

Semmy menganalogikan suatu organisasi seperti roda mesin, ada banyak banyak gigi-gigi yang memiliki fungsinya masing-masing. “Jadi satu gigi saja tidak berfungsi, maka mesin tidak akan bisa berjalan,” jelasnya.

Host:

“Bapak sudah memiliki 20 tahun pengalaman bergerak di swasta, tiba-tiba pindah ke dalam birokrasi pemerintah. Pada saat pindah bagaimana dalam menghadapi perubahan itu?”

Semmy:

“Tiga bulan pertama merupakan waktu yang sangat challenging,” jawab Semmy antusias.

Dirinya bercerita saat di swasta biasanya dirinya melaksanakan sebuah rapat secara egaliter, dirinya tidak melihat siapa (apa jabatannya) tetapi siapa (yang punya ide) dalam rapat. “Dalam rapat bagi saya semua itu sama, leader hanya untuk me-moderate, not giving the vision, not take over the stage,” tegasnya.

Menurut Semmy jika suasana rapat terasa ada atasan bawahan maka akan sulit dalam mengeluarkan sebuah ide. “Awal-awal di Kominfo ketika rapat pasti selalu ada saja yang mengutarakan ‘Pak Dirjen mohon izin, Maaf Pak Dirjen izin’, ketika ingin mengungkapkan sebuah argumen. Saya lalu bilang, dulu saya mengurus izin ke pemerintah ada pajak yang harus dibayar, sekali lagi kamu minta izin kamu juga harus bayar,” cerita Semmy mengingat kembali ke masa itu.

Egaliter sendiri, jelas Semmy, bukan tanpa aturan, tetapi suasana yang ingin dirinya ciptakan jangan sampai ada keraguan dalam mengungkapkan sebuah ide. “Sebenarnya saya sedang transformasikan bagaimana anak buah saya harus berani berdebat dengan saya. Saya ingin ciptakan ruang diskusi dua arah, ini yang saya suka,” tuturnya.

Host:

“Pengalaman menarik apa yang bapak alami ketika baru awal menjadi Dirjen Aptika?”

Semmy:

“Ini ada hal lucu soal protokeler, ketika pertama kali saya diundang di perguruan tinggi di Kota Malang. Begitu saya sampai di Kota Malang saya dijemput oleh pihak yang mengundang sampai ke dalam pesawat dan tas saya mau dibawakan, saya bilang tidak usah saya bisa sendiri,” ungkap Semmy.

“Saya orangnya selalu sendirian, saya tidak pernah pakai ajudan meskipun saya punya fasilitas itu,” lanjutnya.

Namun menurut Semmy dalam hidup harus tetap beradaptasi, sehingga mau tidak mau dirinya juga harus terbiasa dengan protokoler. Setidaknya ketika ada acara-acara formal/resmi baru dirinya membawa pendamping, “Supaya saya tidak salah duduk,” ujarnya.

Semmy: “Transformasi digital ada 3 pilar, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Semua harus menyiapkan diri menjadi ekosistem digital untuk menuju Indonesia Digital Nations (2/8).

Host:

“Bapak sering kali mengungkapkan tentang transformasi digital, bisa bapak jelaskan apa sih transformasi digital itu? Apa pentingnya untuk bangsa Indonesia?”

Semmy:

Semmy menjelaskan jika tranformasi digital merupakan tulisannya saat menjalani seleksi Dirjen dahulu. “Passion saya di internet. Jika hanya saya yang paham maka mereka tidak bisa mendapatkan manfaatnya. Oleh karena itu saat menjabat sebagai Dirjen Aptika saya ingin agar ruang digital manfaatnya dirasakan oleh semua masyarakat,” tandasnya.

Seperti diketahui bersama Presiden Jokowi baru saja memerintahkan untuk mempercepat transformasi digital karena adanya pandemi Covid-19 melalui program Digitalisasi Nasional.

“Menkominfo sudah menangkap itu. Saat ini kita fokuskan dulu pada konektivitas, karena akses terhadap internet merupakan hal paling dasar. Jika masalah konektivitas sudah teratasi barulah kita kasih ruang untuk aplikasi bisa berkembang. Aplikasi inilah ada startup, UMKM dan lainnya,” ungkap Semmy antusias.

Semmy menganalogikan aplikasi seperti sebuah ruangan, tempat masyarakat bisa beraktifitas. Artinya dengan adanya jaringan serta aplikasi masyarakat bisa melakukan segala aktivitas dari mana saja.

Sedangkan untuk memastikan transformasi digital berjalan sesuai UUD 45, Semmy berpendapat harus ada regulasi. “Regulasi seperti kita membangun jalan, jika tidak ada rambunya bisa bertabrakan. Oleh karena itu harus diatur,” tegasnya.

Ketika sudah ada akses, aplikasi, regulasi, serta pengawasan, barulah SDM harus dikembangkan. Menurut Semmy salah satunya melalui literasi digital sebagai dasar, lalu digital skill pada level menengah, baru C-level pada level atas.

“Terakhir setelah memiliki SDM digital yang memadai, kita harus membuka akses terhadap teknologi baru seperti big data, AI, maupun cloud computing,” ucap Semmy.

Host:

“Selama menjadi Dirjen Aptika banyak program pemberdayaan seperti Petani Go Online, Nelayan Go Online, UMKM Go Online, 1000 Startup, next apa lagi rencana ke depan?”

Semmy:

Semmy menjawab bahwa  program-program pemberdayaan yang ada sudah baik, dan saat ini dirinya sedang coba memperbaiki organisasinya agar dapat berjalan dengan cepat dan efektif.

“Jika birokrasi berjalan lambat harus ada trobosan agar bisa berjalan terus tanpa banyak paper work. Kita selama ini banyak habis uang dan waktu dari paper work,” tegasnya.

Semmy mencontohkan program UMKM Go Online. Menurutnya jika dilihat secara postur anggaran dan target hanya dialokasikan 6 ribu rupiah per satu UMKM. “Uang segitu tidak akan cukup. Akhirnya kita cari solusi dengan berkolaborasi dengan stakeholder, dalam hal ini marketplace,” ungkap Semmy.

Hal yang sama juga berlaku untuk program literasi digital, dengan target 50 juta masyarakat terpapar literasi. Harus ada kolaborasi dan kerja bersama, tidak bisa kerja sendirian. Dirinya menginginkan semua harus punya kontribusi, agar semua mendapat manfaat yang sama.

“Akhirnya pada nanti saatnya transformasi digital terwujud, yang menikmati seluruh masyarakat Indonesia. Jangan sampai kita hanya sebagai market, tapi kita juga harus turut berkontribusi,” ajak Semmy.

Host:

“Terakhir, apa pesan bapak untuk masyarakat Indonesia?”

Semmy:

Pada akhir podcast Semmy berpesan agar masyarakat Indonesia menggali potensi yang dimiliki agar menghasilkan suatu inovasi. “Saya ambil tagline teman-teman kita yang sudah menjadi besar: Mulai saja dulu, pasti ada jalan, jika tidak memulai bagaimana kita tahu jalannya,” pesannya.

“Mulailah dengan mimpi yang besar, cari solusinya, ciptakan karyanya, hasilkan inovasinya, dan jangan takut untuk menghadapi tantangan. Mari tetap berkarya dengan 1000 karya, 1000 solusi, 1000 inovasi, untuk satu Indonesia Raya” tutup Semmy. (lry)