Startup Papua “Kitong Bisa” Sambut Hadirnya Tol Langit

Forum Merdeka Barat 9 dengan tema Menghitung Dampak Palapa Ring (15/10).

Jakarta, Ditjen – Startup asal Papua “Kitong Bisa” mengapresiasi beroperasinya Palapa Ring oleh Presiden Joko Widodo. Palapa Ring kini telah tersedia di wilayah barat, tengah, dan timur Indonesia.

“Saya sangat apresiasi sekali pemerintah telah meresmikan dan mengoperasikan Palapa Ring atau yang biasa disebut tol langit. Dengan adanya Palapa Ring ini tentu akan berdampak positif bagi generasi muda di Indonesia, dalam hal ini khususnya di Papua,” ujar CEO KitongBisa.com, Billy Mambrasar, saat Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dengan tema Menghitung Dampak Palapa Ring, di Ruang Serba Guna Kementerian Kominfo Jakarta, Selasa (15/10/2019).

“Maka dengan adanya Palapa Ring akses internet akan cepat, tentu akan makin memudahkan kita mengakses pasar global dan menagkap peluang dengan lebih baik. Generasi muda Papua dapat memanfaatkan akses internet dengan maksimal dan mengembangkan ekonomi digital,” tegas Billy.

Startup Kitong Bisa

Billy kemudian menceritakan awal mula dirinya mendirikan startup Kitong Bisa, dirinya menuturkan bahwa Kitong Bisa pertama kali didirikan pada tahun 2009. “Saya dari kecil sudah diajarkan entrepreneurship, jualan kue dan lain sebagainya. Akhirnya setelah menyelesaikan pendidikan, saya tergerak untuk menularkan kepada generasi muda di Papua agar mengubah pola pikirnya untuk bisa jadi entrepreneurship juga.”

Billy akhirnya memutuskan membuat pergerakan kitong bisa, sebagai pusat pembelajaran di Papua yang bertujuan untuk menginspirasi generasi muda Papua untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik, menjadi sukses dan keluar dari garis kemiskinan. Terutama bagi para perempuan dan lulusan sekolah menengah dan kejuruan.

CEO Kitong Bisa, Billy Mambrasar, saat FMB 9.

Visi dari Kitong Bisa ialah menanamkan pola pikir kewirausahaan sedini mungkin. Untuk itu Kitong Bisa membuka pusat pembelajaran di berbagai tempat untuk mengajarkan keterampilan dan kewirausahaan secara informal.

“Jadi sejak usia dini, kita lebih fokus pada perubahan perilaku. Setelah mereka mencapai sekolah menengah, mereka belajar bagaimana keterampilan aktual seorang wirausahawan,” jelas Billy.

Kitong Bisa telah mendidik lebih dari 1.100 anak di seluruh Papua dan melahirkan 118 anak muda Papua yang memiliki startup, usaha, atau gerakan sosial kepemudaan dalam Papua Muda Inspiratif. “Mereka akan diberikan pembekalan atau pelatihan kepemimpinan dan nasionalisme,” ujar Billy.

Kitong Bisa juga telah memiliki Kitong Shop (KITOS) dan Kitong e-Learning yang akan tersedia di www.kitongbisa.com. Dalam platform online tersebut, berbagai produk sosial, budaya, dan ramah lingkungan akan dijual.

“Kami berkomitmen untuk memberikan produk berbasis etnis Papua berkualitas tinggi, ergonomis, tapi ramah lingkungan. Dengan adanya Palapa Ring saya yakin pergerakan Kitong Bisa dapat lebih besar lagi. Kita harus optimis, apalagi pemerintah juga akan segera tuntaskan pembangunan 4.000 BTS lagi pada tahun 2020,” pungkas Billy.

Pusat pembelajaran Kitong Bisa saat ini telah ada di Yapen, Jayapura, Merauke, dan Fakfak.

Acara Forum Merdeka Barat 9 tersebut juga dihadiri Direktur Utama BAKTI Anang Achmad Latif, Asdep Telematika Utilitas Kemenko Perekonomian Eddy Satriya, VP Regulatory Management Telkomsel Andi Agus Akbar, Bupati Asmat Elisa Kambu (telekonference), dan Kadis Kominfo Jayawijaya Isak S.F Sawaki. (lry)