Dalam Industri Startup, Ide Lebih Mahal Dibanding Modal

Dirjen Aptika, Semuel A. Pangerapan saat acara Selamat Pagi Indonesia (19/8).

Jakarta, Ditjen Aptika – Berbeda dengan bisnis konvensional yang sangat bergantung kepada modal untuk dapat berjalan, industri startup sangat bergantung kepada ide dan gagasan.

“Dalam dunia startup modal harusnya kecil, yang mahal justru ide dan kemauan untuk kerja. Kemauan untuk selalu berinovasi. Jadi kalo gagal ya coba hal lain lagi,” ujar Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Semuel Abrijani Pangerapan, saat acara Selamat Pagi Indonesia di Metro TV, Senin (19/08/2019).

Semuel berharap selain terus menghadirkan ide dan inovasi, mental dari para founder juga harus diperkuat, harus punya mental baja, ketika gagal temukan cara-cara lain.

Baca Juga: Tantangan Memulai Startup Makin Bertambah

Ketika ditanya terkait data pertumbuhan startup pada tahun 2018 yang masih didominasi daerah Jabodetabek, Semuel mengatakan bahwa Kementerian Kominfo sedang berusaha membangun ekosistem melalui pemerataan kesempatan.

“Tahun ini kami memiliki program 1000 Startup Digital yang rencananya akan dilakukan di 10 kota, yaitu Yogyakarta, Jakarta, Semarang, Malang, Makassar, Pontianak, Medan, Surabaya, Denpasar, dan Bandung,” katanya.

Menurut Semuel pemilihan kota tersebut sudah berdasarkan dengan kesiapan ekosistem yang sudah terbentuk di daerah tersebut.

Semuel juga meyampaikan, target pemerintah pada tahun 2019 ini memiliki lima unicorn, dan pada tahun 2020 memiliki 1000 startup digital.

Dirjen Aptika, Semuel A. Pangerapan bersama pengamat startup Anissa Maharani.

Pengamat startup, Anissa Maharani, menilai peminat startup saat ini sudah meningkat tajam. Bahkan dari data Kominfo sudah hampir ada 1000 startup digital.

“Tugas kita sekarang bukan lagi hanya meningkatkan kuantitas, tapi juga kualitas. Bagaimana caranya? Yaitu dengan meningkatkan sumber daya manusia,” katanya.

Sementara itu saat acara Ignite The Nations, Staf Khusus Kominfo Bidang PMO dan Ekonomi Digital, Lis Sutjiati menyatakan, pemerintah menyediakan secara gratis program 1000 Startup Digital.

“Padahal dulu ikut program semacam itu harganya mahal. Kenapa? Kita ingin membuat inklusif, bagaimana semua orang di setiap daerah punya kesempatan yang sama mengembangkan ide-idenya,” ucapnya. (lry)