Teknologi Digital Jadi Kunci Peluang Kerja Masa Depan

Wapres Jusuf Kalla membuka Indonesia Development Forum 2019.

Jakarta, Ditjen Aptika – Teknologi Digital merupakan kunci dalam menciptakan peluang lapangan pekerjaan di masa yang akan datang, sebagai upaya pemerintah mengurangi angka kemiskinan.

“Teknologi digital telah mengubah banyak kehidupan, mengubah banyak perilaku. Teknologi digital merupakan suatu berkah bagi kita semua, tetapi juga merupakan sebuah tantangan, karena itulah tantangan ini harus dipenuhi bersama-sama,” ucap Wakil Presiden Jusuf Kalla saat membuka Indonesia Development Forum 2019 di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Senin (22/07/2019).

Jusuf Kalla juga berharap Indonesia tidak hanya menjadi konsumen di dunia digital dan teknologi, melainkan turut aktif dalam perkembangannya dan menjadi bagian dari inovasi teknologi tersebut.

Wapres Jusuf Kalla mengunjungi Booth Aruna dan Tanihub yang merupakan mitra Kementerian Kominfo dalam Program Petani dan Nelayan Go-Online.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Bambang Brodjonegoro, pada acara yang sama mengatakan bahwa tema dari acara Indonesia Development Forum 2019 ini ialah bagaimana mengurangi kemiskinan dengan menciptakan lapangan pekerjaan dan bagaimana menyiapkan sumber daya manusia. Caranya dengan mendorong tumbuhnya startup-startup digital.

Pemerintah akan membantu mendirikan co-working space sebagai wadah dari para startup pemula agar dapat tumbuh. Terutama pada sektor yang memiliki dampak pembangunan, seperti pertanian, nelayan, pendidikan, dan kesehatan. “Kalau ada yang bilang serba digital itu mematikan lapangan pekerjaan itu salah, justru dengan digitalisasi menciptakan lapangan pekerjaan baru yang jauh lebih produktif,” tegas Bambang.

Namun menciptakan lapangan pekerjaan di era digital juga harus didukung dengan sumber daya manusia yang siap dengan hal tersebut. Untuk itu Bambang mengatakan tenaga kerja di masa depan harus adaptif dengan teknologi digital, sehingga gap antara keahlian yang dimiliki dan apa yang dibutuhkan pemberi kerja menjadi berkurang.

“Untuk mengurangi gap tersebut, pendidikan vokasi atau kejuruan di Indonesia harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Jadi tidak bisa hanya sibuk dengan kurikulumnya sendiri tetapi tidak memperhatikan pasar. Jadi kami mendorong vokasi dan SMK untuk menyesuaikan kebutuhan pasar,” ujarnya.

Menteri PPN Bambang Brodjonegoro mengatakan “Kita harus merubah paradigma Ijazah Oriented menjadi Kompetensi Oriented agar bisa bersaing di Revolusi Industri 4.0.

Ketika ditanya target Bappenas lima tahun mendatang, Bambang menyatakan akan mengurangi 5% – 6% angka kemiskinan dan 3% – 4% angka pengangguran. “Bukan hanya mengurangi, namun juga memperbaiki yang semula dari informal menjadi formal, sehingga upahnya membaik. Karena pengangguran tidak hanya aspek kuantitas tapi juga aspek kualitas,” ungkapnya.

Indonesia Development Forum merupakan konferensi internasional yang diinisiasi oleh Kementerian PPN/Bappenas dan didukung Pemerintah Australia melalui Knowledge Sector Initiative. IDF Pertama kali digelar pada tahun 2017 dengan dihadiri 1500 peserta dan 200 pembicara per tahunnya. Pada tahun 2019 ini IDF mengambil tema Mission Possible: Memanfaatkan Peluang Pekerjaan Masa Depan Untuk Mendorong Pertumbuhan Inklusif. (lry)