Bangun Bisnis Startup dengan Ide Berbeda

Jakarta, Ditjen Aptika – Generasi muda yang kreatif dan kritis harus menjadi pionir dalam membangun bisnis startup. Ekonomi digital di tahun 2020 diperkirakan mencapai 130 milyar USD atau 1.700 triliyun rupiah.

“Generasi muda harus membangun startup yang dibutuhkan masyarakat dengan memberikan solusi berbeda dari sebelumnya. Dengan sedikit atau bahkan tidak ada kompetitor di jalur yang dipilih, maka peluang sukses akan semakin besar,” ujar Staf Ahli Menteri Kominfo Prof Henri Subiakto saat acara Roadshow Gerakan 1000 Startup Digital di Kampus Universitas Teknologi Yogyakarta, Yogyakarta, Kamis (16/05/2019).

Ditambahkan oleh Prof. Henri, tidak menutup kemungkinan peluang besar tadi juga menambah besar nilai ekonomi. “Indonesia berpotensi meningkatkan nilai ekonomi tapi juga berpotensi sebagai pasar yang besar. Dengan demikian, Indonesia bisa menjadi pelaku ekonomi dan dapat terus mengembangkan UMKM atau e-Commerce dengan pesat,” jelasnya.

Gerakan nasional 1000 Startup Digital merupakan salah satu upaya pemerintah mengembangkan ide-ide anak muda. “Jika memang kesulitan dalam membangun sebuah bisnis startup dari awal, bisa dicoba dulu bergabung dalam tim startup yang sudah ada. Seperti sebagai tim legal marketing atau public relation, karena hal tersebut pun bisa membantu mengembangkan perusahaan startup yang sudah ada menjadi lebih maju,” tambah Henri.

Prof. Henri Subiakto saat Sesi Paparan di Roadshow Gerakan Nasional 1000 Startup Digital di Yogyakarta (16/05/2019)

Prof. Henri menyarankan kepada peserta harus mengambil kesempatan untuk bisa ikut andil dalam penentu masa depan Indonesia. Terutama di bidang ekonomi digital atau e-commerce yang diperkirakan pada tahun 2020 mencapai angka 130 milyar USD atau senilai 1.700 triliyun rupiah.

Kegiatan roadshow tersebut dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kreatifitas, Inovasi dan Kewirausahaan, UTY. Turut hadir Sebastian Alex Dharmawangsa (Head of Program Innovative Academy UGM), Sony Rachmadi (CEO Run System), Fadli Wilihandarwo (CEO Pasienia), Aditya Cahya (CEO Andil) dan Irvindo Patrianusa (CEO Kalikesia) serta sekitar 100 orang mahasiswa. (hel)