Pemerintah Fasilitasi Startup di Bidang Kesehatan

Tangerang, Ditjen Aptika – Untuk membangun ekosistem digital khususnya di sektor kesehatan, Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerjasama dengan startup di bidang kesehatan.

Menurut Plt. Direktur Ekonomi Digital, Nizam Waham, transformasi digital sektor strategis bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat. Ekonomi digital dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat Indonesia dimana salah satu upaya digitalisasi di sektor strategis yang menjadi fokus Kominfo adalah sektor kesehatan.

“Fungsi pemerintah sudah beralih dari regulator menjadi fasilitator dan akselerator para startup di bidang kesehatan. Sebagai contoh dengan melakukan fasilitasi pengembangan ekosistem ekonomi digital bagi startup Prosehat, Medigo, MoI, dan lain-lain”, ujar Nizam saat memberikan sambutan pada acara Seminar Digitalisasi Pelayanan Kesehatan di Era Universal Health Coverage (UHC) dan Revolusi Industri 4.0, di Bumi Serpong Damai Tangerang, Kamis (04/04/2019).

Harya Bimo dari Medigo menjelaskan, di era Industri 4.0 ini industri kesehatan di Indonesia masih menghadapi tantangan interoperabilitas, transformasi digital, dan pengelolaan data. Berdasarkan data The Future of The Indonesian Healthcare Ecosystem di tahun 2018, sebanyak 1.440 triliun rupiah habis untuk menangani masalah interoperabilitas layanan.

Selain itu, menurut laporan kinerja Kementerian Kesehatan pada tahun 2018, ada 210 dari 514 Kabupaten/Kota yang belum memiliki jaringan komunikasi data untuk pelaksanaan e-kesehatan dan sekitar 61% daerah tingkat II tidak melaporkan data kesehatan prioritas.

“Oleh karena itu, menghubungkan semua stakeholders adalah kunci terciptanya ekosistem kesehatan yang lebih baik. Medigo memiliki misi untuk menghubungkan pasien, dokter, dan penyedia layanan kesehatan melalui ekosistem digital,” jelas Harya.

Sementara itu dr. Agnes MPH dari ProSehat menyatakan bahwa ada beberapa tantangan di industri kesehatan pada tahun 2019, yaitu kenaikan biaya layanan kesehatan, perubahan regulasi, pergerakan permintaan dan harapan dari pasien, transformasi digital dan keamanan siber. Berdasarkan studi di 2.300 Rumah Sakit di Amerika Serikat, pihak RS seharusnya bisa menghemat 10 juta dollar AS dalam hal Supply Chain Management (manufaktur, distributor, provider, pembeli).

“Oleh karena itu, diperlukan solusi teknologi terkait supply chain management dengan adanya konsep Management Inventory Just In Time (JIT) yang bertujuan untuk mengurangi inventori yang terbuang dan bersifat redundan, sehingga pengiriman produk, komponen atau bahan dilakukan sesuai dengan kebutuhan organisasi,” kata Agnes.

Seminar ini terlaksana atas kerjasama Kementerian Kominfo, Dinas Kesehatan Tangerang, Asosiasi HealthTech Indonesia, ProSehat, dan Medigo. (pae)