IKM Perlu Literasi Digital untuk Hadapi Kebiasaan Baru

Peserta dan narasumber seminar daring Pandu Digital: Digital Economy Series IKM & UMKM, Rabu (30/09/2020).

Jakarta, Ditjen Aptika – Kegiatan ekonomi Industri Kecil Menengah (IKM) harus tetap berjalan saat pandemi Covid-19. Namun, para IKM perlu dibekali literasi digital untuk menghadapi era kebiasaan baru.

Dirjen Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih menyampaikan hal tersebut pada seminar daring Pandu Digital: Digital Economy Series IKM & UMKM, Rabu (30/09/2020).

“Kita butuh kemampuan literasi digital pembina dalam membantu pertumbuhan dan pengembangan IKM untuk beradaptasi agar tidak berhenti,” ujar Gati.

Dirjen IKMA Kemenperin, Gati Wibawaningsih saat menyampaikan sambutan dalam webinar Pandu Digital (30/09).

Menurut Gati, pembinaan kepada IKM adalah hal yang penting karena industri ini paling banyak menyerap tenaga kerja di Indonesia. “Ini adalah ekonomi kerakyatan sehingga harus bergerak terus,” ungkapnya.

Lihat Juga: Pandu Digital Harus Dapat Tentukan Segmentasi Literasi Digital

Sementara Plt. Direktur Pemberdayaan Informatika Kemkominfo, Slamet Santoso menyampaikan bahwa Ditjen Aptika membantu peningkatan literasi digital pembina IKM melalui Pandu Digital.

Slamet menyatakan kegiatan ini sejalan dengan langkah percepatan transformasi digital yang diamanatkan langsung oleh Presiden Joko Widodo, yaitu membentuk talenta digital secara masif. “Kementerian Kominfo sampai tahun 2024 akan mencoba membentuk 50 juta masyarakat yang mendapatkan literasi digital,” katanya.

“Namun, kami tidak bisa melakukannya sendiri, perlu kolaborasi dan bergandengan tangan dengan kementerian /lembaga, komunitas, maupun para akademisi. Oleh karena itu, ini menjadi momen yang pas untuk menjadi awal kolaborasi menumbuhkan talenta digital,” ungkap Slamet.

Plt. Direktur Pemberdayaan Informatika, Slamet Santoso saat menjelaskan salah satu langkah percepatan transformasi digital (30/09).

Tantangan Pembina IKM

Sementara itu, Perwakilan dari Asosiasi Penyuluh Perindag Indonesia (APPI), Rendro Prasetyo mengatakan dalam menghadapi transformasi digital sudah ada IKM yang beralih usaha dari ranah offline ke daring (online). “Pelaku usaha IKM yang beralih ke online karena mereka sudah mengetahui manfaatnya,” katanya.

Meskipun, lanjut Rendro, banyak juga yang belum beralih karena keterbatasan dari pelaku usahanya sendiri. Sehingga tantangan yang dihadapi pembina IKM ada lima, yaitu kapabilitas SDM, adaptif dengan TIK, kemampuan bekerja kolaboratif, berorientasi pada hasil, dan bekerja sesuai tujuan.

“Karena ada beberapa pembina/penyuluh yang bekerja tidak sesuai tujuan dan ada pula pelaku usaha yang lebih luas pengetahuannya dibanding pembina,” jelasnya.

Lihat Juga: UMKM Pedesaan Harus Bersiap Hadapi Transformasi Digital

Rendro berharap dengan memperhatikan tantangan tersebut, kemampuan para pembina dapat meningkat dalam memberikan penyuluhan pada pelaku usaha untuk beralih ke ranah digital. (pag)