Tips Merangkai Narasi Humanis di Akun Media Sosial Pemerintah

Tangkapan layar acara Forum Koordinasi Kementerian Lembaga, Rabu (13/05).

Jakarta, Ditjen Aptika – Pengelola akun media sosial milik pemerintah kadang terjebak pada dilema dua hal yang bertolak belakang. Di satu sisi tampil formal untuk tetap menjaga wibawa suatu instansi pemerintah, tapi di sisi lain tetap terlihat humanis agar mendapatkan perhatian warganet.

Seorang Wikipediawan Bahasa Indonesia Ivan Lanin mencoba mengupas bagaimana merangkai narasi yang humanis pada akun media sosial pemerintahan. Hal tersebut membantu fungsi kehumasan di K/L masing-masing.

“Bagaimana humas kementerian dan lembaga dapat menyusun narasi media sosial yang humanis, berempati, menenangkan, serta meningkatkan optimisme masyarakat? Saya akan menjawabnya dengan membagi dalam lima bagian,” jelas pria yang juga menduduki jabatan sebagai Direktur Utama Narabahasa, Ivan Lanin, saat live streaming acara Forum Koordinasi Kementerian Lembaga, Rabu (13/05/2020).

Pria yang juga ikut menjadi tim penyusun KBBI V tersebut menjelaskan lima bagian yang harus dilakukan oleh pengelola akun media sosial pemerintah dalam merangkai narasi kebijakan pemerintah agar humanis.

Lima bagian untuk merangkai narasi kebijakan pemerintah yang humanis di media sosial.

Audiens

Ivan mencoba memberikan pengertian bahwa sebelum memulai memberikan kiriman di media sosial, kenali dahulu kepada siapa kita berbicara, bagaimana profil audiens internet, dan apa yang mereka harapkan.

Berdasakan survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2018, ada 171,17 juta pengguna internet atau 64,8% dari total populasi penduduk Indonesia 264,26 juta orang.

“Dari jumlah tersebut kita harus melihat demografinya, kita lihat sebarannya, agar kita tahu siapa sasaran dari kampanye kita,” ungkap Ivan.

Persebaran pengguna internet berdasarkan usia.

“Mengapa penting bagi kita untuk mengetahui hal tersebut? Karena audiens berpengaruh terhadap strategi kampanye yang akan dilakukan ketika kita ingin mengirim atau memberikan suatu pesan,” papar Ivan.

Namun, pria yang pernah mendapatkan penghargaan Peneroka Bahasa Indonesia Daring dari Kemendikbud tahun 2016 tersebut menyebutkan bahwa mengetahui data itu saja tidak cukup. Kita harus coba menggali kepada audiens apa yang mereka inginkan dan butuhkan di media sosial.

“Sebagai contoh saya pernah melakukan survei di platform Twitter mengenai bahasa dan konten seperti apa yang diinginkan oleh warganet kepada akun media sosial pemerintah,” ungkapnya.

Survei 1: Ragam bahasa.

Ragam Bahasa: formal, tetapi tidak kaku.
Berbahasa formal tidak harus kaku, intinya ketika kita menyampaikan pesan di media sosial jangan pakai ragam bahasa yang benar-benar formal/kaku. Namun di sisi lain kita jangan informal/santai, coba untuk mencari jalan tengah.

Survei 2: Jenis konten

Jenis Konten: lelucon.
Akun media sosial pemerintah paling sering memberikan pengumuman, kebijakan, kegiatan pejabat, karena memang itu tugas dan fungsinya. Tetapi kita juga harus belajar bagaimana mengemas hal tersebut agar menarik dan bisa ditangapi masyarakat dengan antusias. Jenis konten berikutnya yang diminati warganet yaitu info unik/trivia, warganet suka mendapatkan sesuatu yang mereka belum pernah ketahui sebelumnya. Berikutnya baru jenis konten kuis/lomba.

Studi Kasus

Seperti apa pola umum yang bisa dilakukan oleh akun resmi K/L di media sosial? Ivan Lanin mencoba memberikan beberapa contoh studi kasus dari beberapa akun media sosial milik pemerintah yang sudah cukup baik dalam mengemas pesan yang diminati warganet.

Contoh 1: Akun Direktorat Jenderal Pajak Kemenkeu

Cara media sosial tersebut menyajikan pesan dibagi menjadi tiga paragraf, dimana paragraf pertama berisi latar belakang (cerita awal untuk mengangkat), paragraf kedu berisi sapaan yang bisa disampaikan, dan paragraf terakhir pelintiran,

“Jangan ragu untuk membagi paragraf, agar warganet tidak bosan membaca kalimat yang terlalu panjang. Poin penting lainnya warganet suka sesuatu hal yang mengejutkan dan berhubungan dengan keseharian,” pesannya.

Contoh 2: Akun media sosial PT. PLN

Media sosial tersebut mencoba mengolah pesan diubah menjadi sesuatu yang menarik perhatian, dalam ilmu pemasaran ada konsep AIDA (attention/perhatian, interest/minat, desire/keinginan, action/tindakan).

“Konsep AIDA cukup bagus diterapkan, buat kampanye apapun coba kita pikirkan apa yang menarik perhatian orang. Kita bisa memilih dalam bentuk teks ataupun gambar, misal teks untuk menarik perhatian, baru info utama ada pada gambar,” ujar Ivan.

contoh 3: Akun media sosial Badan Bahasa Kemendikbud

Media sosial tersebut mencoba mengambil momentum terkenalnya film parasite yang memenangkan piala oscar. Gambar dan tipografi yang tertera menghubungkan dengan poster film parasite. Mereka mencoba mengikuti sebuah tren, tapi dengan pesan yang berbeda sekali.

Apa yang dapat kita pelajari dari tiga kiriman di atas?

  1. Menunggang gelombang (riding the wave), peluang untuk mendapatkan perhatian dari warganet dari mengikuti suatu tren besar sekali. Tren juga bisa yang sifatnya sudah terjadwal seperti hari besar, namun jangan lupa menyiapkan kiriman yang disesuaikan dengan tusi instansi.
  2. Tohokan (punchline), contoh kiriman Ditjen Pajak, ada tohokan pada bagian akhir, yang membuat orang tergelak.
  3. Pelintiran (plot twist), juga pada kiriman Ditjen Pajak, pada bagian akhir melakukan perubahan pada alur yang dilakukan.

Pengetahuan

fungsi bahasa ada 3: Sebagai alat komunikasi, alat ekspresi, dan alat sosial.

Pengetahuan atau ilmu dasar tentang Bahasa Indonesia harus dimiliki oleh pengelola akun media sosial pemerintah. Menurut Ivan Lanin banyak dari kita sering fokus pada fungsi bahasa sebagai alat komunikasi saja, dan melupakan bahwa ada dua fungsi lainnya.

Fungsi ekspresi penting untuk menyatakan bagaimana perasaan seseorang, minimal harus dapat dijawab secara tegas. Sedangkan fungsi sosial juga tidak kalah penting, fungsi ini bisa menunjukan identitas pada suatu kelompok.

Secara konsep Bahasa Indonesia kita kenal dengan istilah baik dan benar. Dua konsep ini harus kita bedakan, baik artinya sesuai konteks, dan benar artinya sesuai kaidah.

Dalam konsep bahasa yang baik kita harus bisa memilih konteks apa kita menyampaikan suatu pesan, kepada audiens yang mana, dan dalam situasi seperti apa.

Dalam artikel ini Ivan akan lebih menyoroti konsep bahasa yang benar (sesuai kaidah). “Kita mungkin sudah mempelajari kaidah-kaidah Bahasa Indonesia yang selama ini kita tahu, namun tidak pernah kita strukturkan. Ada pilar-pilar kaidah dalam Bahasa Indonesia yang harus kita ketahui,” jelas Ivan.

Beruntungnya di era digital saat ini, semua rujukan pilar kaidah Bahasa Indonesia tersebut sudah dapat diakses secara elektronik melalui tautan di bawah ini.

  1. Tata bahasa: TBBBI s.id/bi-tbbbi
  2. Ejaan PUEBI: s.id/bi-puebi
  3. Kata baku KBBI: s.id/bi-kbbi
  4. Tata istilah PUPI: s.id/bi-pupi
  5. Tesaurus: s.id/bi-tesaurus
  6. Rujukan: s.id/bi-rujukan
  7. Telegram: t.me/bahasbahasa

“Proses untuk belajar Bahasa Indonesia bukan sesuatu yang dilakukan secara instan, saya menulis dan berbicara dengan ragam formal bahkan perlu waktu selama lima tahun,” tandas Ivan.

Peta Jalan

“Ibarat kita ingin pergi perang, setelah kita tahu rujukan apa yang perlu kita miliki, berikutnya kita maju perang. Ketika kita diminta menyusun suatu pesan, kampanye, atau narasi, di media sosial, kita harus membuat peta jalannya,” jelas Ivan.

Ivan kemudian membagi peta jalan tataran bahasa yang perlu dikuasai menjadi lima bagian, sebagai berikut:

  1. Wacana
    Banyak orang yang kesulitan ketika diminta menyampaikan sebuah tulisan. Kiat sederhana untuk memaksa orang untuk dapat mulai menulis ialah menulislah seolah kita sedang bercakap-cakap. Coba ubah pola pikir bahwa yang kita lakukan bukan menulis, tetapi seolah-olah berbicara. Mulai dari wacana izinkan gagasan itu muncul mengalir dari benak langsung dalam bentuk tulisan tanpa filter, setelah itu baru kita periksa dan edit kembali tulisan tersebut.
  2. Paragraf
    Memberikan kekuatan dalam penekanan
  3. Kalimat
    Kita harus belajar, jenis keterampilan yang harus ditingkatkan kualitasnya dengan cara dilatih terus menerus
  4. Kata
    Pembentukan (bentuk kata, kelas kata, dan makna kata.)
  5. Ejaan (huruf, kata, tanda baca)
    Sesuatu yang terkadang paling dianggap remeh, namun jika terjadi suatu kesalahaan (contoh: salah ketik) akan menjadi sasaran untuk warganet merundung. “Jika ada salah ketik, selagi bisa ditarik maka tarik, karena jauh lebih mudah menarik daripada menjelaskan,” saran Ivan.

Hasil Cepat (Quickwin)

Bagaimana kita menerapkan semua pengetahuan ini dengan hasil yang cepat?

Secara Teknis:

  1. Diksi (kekayaan kosa kata)
    Ivan menyarankan agar kita mulai rajin membaca karya sastra, karena sumber kalimat-kalimat indah untuk segala diksi yang jarang didengar orang ada pada karya sastra. Diksi yang kaya akan membuat orang mengucap kekaguman ketika membacanya. Kekayaan diksi juga dapat meningkatkan ketertarikan orang dalam membaca.
  2. Struktur kalimat.
    Dalam membuat struktur kalimat, Ivan juga menyarankan kita untuk terus mengasah dan mempelajari melalui karya sastra.
  3. Kata seru
    Bahasa Indonesia kaya dengan kata seru yang memiliki arti masing-masing. (contoh: dong, deh, sih). Menurut Ivan ragam formal dalam konteks media sosial masih termasuk ranah yang diizinkan. (contoh: Masa warganet belum tau sih?), (Ayo dong ikut dalam kegiatan kami). Kata seru bisa dimanfaatkan untuk membuat percakapan menjadi lebih mengalir dan tidak kaku.
  4. Kata sapaan
    Buatlah kata sapaan yang mencerminkan ciri khas, seperti SobatKom atau SobatPajak. Hal tersebut akan membuat orang akan teringat akan ciri khas kita, daripada selalu menggunakan kata admin terus menerus.
  5. Emoji
    Dalam ranah media sosial, tidak perlu sungkan menggunakannya, karena emoji memiliki peran yang kuat dalam melukiskan suatu kalimat dan cukup diterima penggunaannya dalam media sosial.
  6. Alih kode
    Ketika terjadi pandemi Covid-19, Kemenkes memberikan beberapa materi dalam bahasa daerah masing-masing. “Menurut saya hal tersebut efektif, Nelson Mandela pernah berkata yang jika saya terjemahkan seperti ini: ‘ketika kamu berbicara kepada seseorang dengan bahasa yang dipahaminya, maka pesanmu akan masuk kedalam benaknya. Tetapi ketika kamu bicara kepada seseorang dengan bahasa orang tersebut, maka pesanmu akan masuk kedalam hatinya’. Jadi jangan ragu menggunakan alih kode,” saran Ivan.

Siklus kiriman media sosial

Setelah memahami lima bagian di atas, Ivan menekankan bahwa hal yang harus menjadi catatan ialah proses mengirim pesan di media sosial bukan proses yang sifatnya linier. Satu hal yang sering dilupakan oleh pengelola akun media sosial milik instansi pemerintah ialah perencanaan dan evaluasi, fokus utama para pengelola biasanya hanya pada pembuatan dan pengiriman.

“Dalam setiap kegiatan, termasuk dalam mengirim pesan di media sosial kita tidak boleh melupakan siklus perencanaan, pelaksanaan, evaluasi,” tegas Ivan.

Siklus kiriman media sosial.

Dari segi perencanaan, yang pertama kali harus direncanakan ialah bagaimana identitas (branding) yang ingin kita tampilkan. Akun media sosial yang kita wakili ingin menunjukan profil seperti apa? Hal berikutnya yang harus direncanakan ialah jadwal mengenai jenis konten.

“Hal tersebut biasa dituangkan dalam pedoman penggunaan media sosial instansi, itu penting agar ketika antar admin membuat kampanye, persepsinya tidak berbeda,” papar Ivan.

Setelah ada perencanaan baru masuk pembuatan, menurut Ivan untuk pembuatan konten tidak semua harus kita yang buat sendiri, ada berbagai opsi untuk kita alih dayakan.

Setelah konten dibuat, baru masuk ke proses pengiriman konten. Ivan mencoba memberikan saran waktu-waktu yang tepat untuk kita dalam mengirim konten agar mendapatkan tanggapan yang cukup banyak dari warganet.

“Berdasarkan pengalaman pribadi saya, waktu kirim paling optimal ialah pukul 17.00 – 19.00 dan pukul 05.00 – 07.00. Gunakanlah aplikasi penunjang penjadwalan otomatis agar kita tidak perlu menunggu waktu-waktu tersebut,” sarannya.

Namun menurut Ivan selain faktor waktu optimal pengiriman, faktor dukungan internal juga tidak kalah pentingnya bagi akun media sosial milik pemerintah.

“Biasakan kirim tautannya ke grup whatsapp internal atau himbau rekan-rekan internal untuk bantu menyebarkan. Hal itu akan menimbulkan efek bola salju, semakin banyak orang yang menyukai , maka akan semakin banyak juga orang yang akan membaca postingan tersebut,” tandas Ivan.

Terakhir evaluasi, Ivan menyarankan paling tidak dalam rentan satu minggu sekali dilihat kiriman yang dibuat dan evaluasi mana kiriman yang mendapatkan tanggapan paling banyak. Dari situlah kita bisa pelajari bagaimana secara umum audiens pengikut akun media sosial kita merespon kiriman kita.

Di akhir paparannya, Ivan berpesan kepada admin media sosial pemerintah. “Utamakan bahasa Indonesia karena itu bahasa nasional dan bahasa resmi kita, lestarikan bahasa daerah karena itu kekayaan budaya kita (718 ragam bahasa daerah), terakhir kuasai bahasa asing karna itu jendela kita untuk membuka dunia,” pungkasnya. (lry)