Potensi Kejahatan Siber Meningkat akibat Bekerja dari Rumah

Tangkapan layar Webinar Pemanfaatan Internet dalam Upaya Melindungi Diri dari Pandemi Covid-19 (05/04).

Jakarta, Ditjen Aptika – Maraknya masyarakat bekerja di rumah saat pandemi Covid-19 meningkatkan potensi kejahatan siber. Sehingga penting untuk tetap menjaga budaya keamanan informasi.

“Jika kita bekerja di kantor sudah pasti ada bagian yang mengurusi dan memastikan masalah keamanan informasi (cyber security). Namun di saat work from home ini kita semua bekerja dari rumah masing-masing, sehingga potensi untuk adanya serangan kejahatan siber meningkat,” ujar Staf Ahli KemKominfo Bidang Hukum, Henri Subiakto, saat Webinar Pemanfaatan Internet dalam Upaya Melindungi Diri dari Pandemi Covid-19 yang disiarkan secara live streaming, Selasa (05/05/2020).

Henri kemudian memberikan contoh mengapa masalah keamanan informasi ini menjadi krusial pada kasus kebocoran data dari platform e-commerce Tokopedia.

“Meskipun hingga saat ini belum ditemukan adanya kerugian secara material, tapi dari sisi reputasi dan kepercayaan masyarakat pasti akan menurun. Jadi yang namanya keamanan informasi itu sangat penting. Sekali kita kebobol maka akan ada kemungkinan kerugian materil dan kerugian reputasi,” paparnya.

Pria yang juga merupakan guru besar di FISIP Universitas Airlangga Surabaya tersebut kemudian memberikan tips-tips bagaimana membudayakan keamanan informasi di internet agar terhindar dari kejahatan siber, yaitu:

  1. Selalu mengganti kata sandi (password) secara berkala, dan jangan menggunakan kata yang mudah ditebak seperti tanggal lahir;
  2. Tidak membuka e-mail dari pihak yang tidak dikenal;
  3. Tidak membuka tautan (link) dari orang tidak dikenal;
  4. Selalu gunakan aplikasi yang legal;
  5. Selalu melakukan pembaruan (update) aplikasi;
  6. Pelajari semua aplikasi yang kita pakai untuk meminimalisir kebocoran data; dan
  7. Jangan pernah menunjukan data pribadi di ruang publik.

Menurut Henri, pemerintah beserta seluruh mitra kerja perlu memberikan literasi digital mengenai protokol standar keamanan siber agar masyarakat paham bagaimana mencegah munculnya kejahatan siber.

“Selain itu hal-hal seperti praktik komunikasi digital yang aman, serta pemahaman mengenai berita hoaks dan disinformasi juga tidak kalah penting untuk di sosialisasikan,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut Henri juga menyoroti mengenai penggunaan aplikasi penunjang kerja (seperti video conference) yang banyak digunakan saat ini. Ia pun menyarankan penggunaan aplikasi dalam negeri.

“Kita harus mendukung perusahaan nasional, contohnya untuk aplikasi jenis video conference kita sebenarnya memiliki ‘u meet me‘ yang merupakan aplikasi buatan Telkom. Meskipun tidak dapat menjamin 100% aman, tapi data dan servernya ada di dalam negeri,” terang Henri.

Guna menambah ilmu mengenai keamanan informasi, Henri menyarankan agar membaca e-book berjudul ‘Covid-19 and Cyber Threats in Southeast Asia’ dari perusahaan yang bergerak untuk kampanye keamanan informasi. Buku tersebut dapat diunduh secara gratis melalui tautan http//cyberfraudprevention-bsa.com/.

Di akhir presentasi Henri menghimbau masyarakat untuk selalu memiliki kesadaran (awareness) mengenai keamanan informasi. Selain itu, masyarakat agar tetap mempertahankan budaya hidup bersih, sehat, dan physical distancing meskipun pandemi dinyatakan berakhir. Hal ini untuk mencegah serangan Covid-19 gelombang kedua. (lry)