Banyak Korban Hoaks Terperangkap di Ruang Gema

Direktur Tata Kelola Aptika Mariam F Barata saat memberikan paparan di acara Smart School Online (Foto: Asni)

Jakarta, Ditjen Aptika – Penyebaran berita hoaks sudah kian masif sehingga menimbulkan banyak korban. Para korban hoaks seringkali tidak sadar jika mereka terperangkap dalam ruang gema atau echo chamber effect.

“Efek ruang gema adalah suatu kondisi dimana seseorang hanya mau mendengar sesuatu yang sudah sepemikiran, sehingga memperteguh sikap mereka. Seperti gema suara di ruang tertutup, pikiran yang berulang memperkuat pandangan yang makin mengental dan ekstrim. Hoaks dan media yang tidak jelas kredibilitasnya pun dianggap sebagai kebenaran karena sesuai dengan suara yang bergema,” ucap Mariam F Barata, Direktur Tata Kelola Aplikasi Informatika, saat acara Smart School Online di Kemendikbud Jakarta, Kamis (14/03/2019).

Menteri Penerangan Publik dan Propaganda Nazi Paul Joseph Goebbels pernah mengatakan, kebohongan yang diulang-ulang akan membuat publik percaya bahwa kebohongan tersebut adalah kebenaran.

“Sistem yang telah diterapkan di internet dimana ketika kita mencari sebuah berita, maka kita akan terus di-link ke berita sejenis membuat kita terjebak di ruang gema dan kita tidak menyadari hal tersebut,” jelas Mariam.

Efek ruang gema tersebut semakin parah karena saat ini kita memasuki era post truth, yaitu sebuah kondisi dimana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal. Kondisi ini membuat makin suburnya penyebaran hoaks.

Untuk meminimalisir kondisi tersebut, Mariam mencoba memberikan tujuh tips dalam mendeteksi hoaks, yaitu:

  1. Cek alamat url (hanya percaya situs resmi seperti .com/.id)
  2. Cek situs penyebar berita (apakah kredibel atau tidak)
  3. Cek dan bandingkan dengan media lainnya (apakah ada banyak kanal berita lain yang memberitakan berita tersebut)
  4. Gunakan fact checking (coba situs snopes.com dan FactCheck.org)
  5. Cek siapa penulis atau narasumbernya (googling informasi mengenai orang tersebut)
  6. Beritanya menimbulkan emosi si pembaca (biasanya berita hoaks menyasar emosi negatif pembaca)
  7. Cek bagaimana penulisannya (berita benar umumnya tidak menggunakan tanda seru dan capslock)

Mariam berharap peserta yang rata-rata terdiri dari tenaga pendidik dan orangtua sebagai figur penting dalam pembentukan karakter generasi penerus, dapat memberikan pemahaman yang tepat mengenai cerdas dalam memanfaatkan internet dan kemajuan teknologi.

Kegiatan Smart School Online ini terselenggara atas kerja sama Kementerian Kominfo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ICT Watch, Google Indonesia, Sejiwa Institute dan ECPAT. Peserta yang hadir sebanyak 300 orang terdiri dari guru, orang tua dan LSM di bidang internet dan TIK. (lry)

Galery Foto Smart School Online:

Pembukaan Acara Smart School Online
Pembukaan Acara Smart School Online
« 1 of 5 »