Cara Mengatasi Hoax dengan Antivirus dan Imunisasi

Dedi Permadi Tenaga Ahli Kementerian Kominfo Salah satu pembicara di acara Seminar dan Lokakarya Pandu Digital di Kota Bandung

Jakarta, Ditjen Aptika – Penyebaran berita bohong atau hoax menjadi fenomena yang mengkhawatirkan pada era digital dewasa ini, baik untuk tujuan ‘iseng’ ataupun motif tertentu. Seorang pegiat literasi media Santi Indra Astuti merumuskan cara mengatasi hoaks dengan dua cara, yaitu menggunakan antivirus dan imunisasi.

“Hoaks itu ada banyak jenisnya, sepanjang Tahun 2018 telah ditemukan 997 tipe hoax, isu paling banyak yang ditemukan adalah mengenai politik dan agama. Saat ini kita terancam disintegrasi bangsa. Bagaimana cara mengatasi hoaks? Ada dua cara, jangka pendek kita harus mencari antivirus dengan melakukan gerakan anti hoaks yang ampuh supaya mereka yang terinveksi virus dapat sembuh dan tidak menyebar. Sedangkan jangka panjang dengan cara imunisasi melalui literasi digital,” jelas Santi Indra Astuti pada acara Seminar dan Lokakarya Pandu Digital di UNISBA Bandung (18/02/2019).

Selanjutnya perempuan yang sejak Tahun 2016 bergabung dengan komunitas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) ini memaparkan detail planning dari “antivirus” dan “imunisasi” yang dirinya sampaikan sebagai berikut:

Jangka Pendek (melalui antivirus):

  1. Sanksi hukum bagi penyebar dan produsen hoaks (penegakan hukum UU ITE Pasal 27);
  2. Peningkatan fact checkers (pengecek fakta), dilakukan sesuai dengan latar belakang masing-masing tergantung dengan substansinya;
  3. Mencetak hoax busters sebanyak-banyaknya untuk menetralisir tempat-tempat yang keracunan virus, terutama tempat dimana banyak tersebar hoaks, misalnya di aplikasi pesan instan yang merupakan dark social karena jejak penyebarannya tidak bisa dideteksi.

Jangka Panjang (melalui imunisasi):

  1. Digital literacy, terus melakukan literasi digital ke berbagai daerah di Indonesia untuk mengkampanyekan gerakan anti hoaks;
  2. Multiple literacy, menerapkan konsep multiple literacy dalam mengajar di sekolah, domain utama dalam multiple literacy adalah (institusi literasi, literasi digital, kritikal literasi, literasi bahasa, literasi akademik, literasi sosial budaya);
  3. Transliteracy, mengembangkan kemampuan untuk menggunakan beragam teknologi, baik analog dan digital untuk bekerja dengan berbagai sumber daya untuk berkolaborasi dan berpartisipasi dalam jejaring sosial dan untuk mengkomunikasikan makna dan pengetahuan baru dengan menggunakan media yang berbeda.

Sementara Plt. Direktur Pemberdayaan Informatika, Slamet Santoso menyatakan, peran kampus sebagai basis kaum intelektual sangat besar dalam memerangi hoaks, melalui edukasi dan pendampingan kepada masyarakat terkait literasi digital.

“Kami berharap semua peserta hari ini dapat menyebarkan wawasan yang didapat dari acara ini, agar muncul snowball effect khususnya warga kota Bandung,” ujarnya.

Dedi Permadi tenaga ahli Kementerian Kominfo yang juga merupakan ketua umum Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi mengajak para mahasiswa dan mahasiswi UNISBA ikut mengkampanyekan hastag #semaidamai (Siberkreasi Semai Damai: Saya Netizen Damai Indonesia), demi terwujudnya iklim yang positif di dunia internet yang sedang memasuki tahun politik. (lry)