Etika Ruang Digital Sama Pentingnya dengan Etika Ruang Nyata

Jakarta, Ditjen Aptika – Berkembangnya teknologi perlu diimbangi kesadaran untuk menjaga etika dan moral dalam berkomunikasi. Tanpa disengaja ada hal-hal yang dianggap kecil, tapi dapat mendatangkan masalah di ruang digital atau media sosial.

“Netiket atau etika dalam ruang digital sama pentingnya dengan etika di ruang nyata, bahkan bagaimana kita berperilaku di ruang digital harus selaras dengan kehidupan sehari-hari,” ujar Wakil Ketua GNLD Siberkreasi, Anita Wahid pada acara Webiplus : Karya Digital Mudah Viral, Jumat (22/10).

Anita menegaskan netiket itu menunjukkan masyarakat tidak hanya sebagai individu, tetapi juga sebagai karakter bangsa Indonesia. Jangan sampai masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang sangat ramah tetapi ternyata berperilaku tidak sopan.

“Kalau mau bernetiket secara baik sebenarnya sederhana, kalau ingat tiga prinsip yang mudah untuk menjaga netiket kita. Tiga prinsip itu ialah kita perlu selalu menjunjung tinggi prinsip memanusiakan manusia lain, menjaga diri dan orang lain, dan sadar akan konsekuensi setiap perbuatan,” sambungnya.

Menurut Anita, konsekuensi penting untuk diperhatikan dan tidak bisa terbebas karena membawa dampak. Misalnya konsekuensi sosial, akibat mengunggah ujaran kebencian di media sosial.

“Saya pesan buat warga internet bisa bersama-sama menegakkan etika dalam berinteraksi dengan orang lain, dan ada konsekuensinya baik buat diri sendiri, orang terdekat maupun orang lain. Juga menahan dan menjaga diri sebelum mengunggah atau komentar apa pun,” pungkas Anita.

Sementara itu dari kalangan publik figur, Yuki Kato juga menjelaskan pentingnya netiket sebagai tata cara dalam berinteraksi di ruang digital.

“Dunia internet itu luas banget, apa yang kita unggah akan ada selamanya di situ walaupun sudah kita hapus di akun media sosial. Kita harus selalu pikirkan apa yang mau diunggah, apakah itu foto, video konten, maupun komentar seperti hate speech. Coba dipikirkan matang dulu, apakah itu relevan atau penting,” ungkapnya.

Yuki pun menambahkan, teknologi akan semakin berkembang dan orang-orang akan hidup selaras dengan teknologi. Etika dasar yang sudah diterapkan di rumah, juga bisa diterapkan di dunia digital dan media sosial.

“Netiket itu adalah perilaku kita sebagai warga internet. Bukan hanya sebagai konten kreator, tapi kita harus mempunyai etika yang baik di mana pun kita berada, termasuk di media sosial,” terang Yuki.

Sedangkan Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Semuel A. Pangerapan mengungkapkan data literasi digital Indonesia menurut survei tahun 2020, hasil kerja sama antara Ditjen Aptika dan Katadata. Indeks literasi Indonesia berada pada angka 3,47 (dari skala 1 sampai 4).

Lihat juga: Survei Nasional jadi Acuan Peta Jalan Literasi Digital

“Data ini menunjukkan bahwa literasi digital masyarakat Indonesia berada di tingkat sedang, padahal literasi menjadi kunci dan pondasi dalam dunia digital. Maka dari itu, literasi digital dapat membantu masyarakat dalam menggunakan teknologi di ruang digital, terutama di media sosial, agar berperilaku cermat dan beretika,” tutur Dirjen Semuel.

Turut hadir dalam acara, Jimmy Jeremia (CEO PT. MNC Shop), Titan Hermawan (Managing Director MNC Pictures), dan secara daring Teddy Tee (COO Motion Banking MNC Bank). (raf/magang)

Print Friendly, PDF & Email