Mesin AIS

Mesin AIS (Automatic Identification System) adalah sebuah mesin pengais (crawling) yang memiliki sistem pelacak otomatis untuk mengidentifikasi dan menemukan konten-konten negatif di internet yang dimiliki oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Pertanggungjawaban pembangunan mesin ini dipegang PT. Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) ini mulai beroperasi pada 28 Desember 2017.

Mesin AIS bekerja efektif mencari konten negatif dengan artificial intelligent yang mampu mengidentifikasi konten negatif yang terdeteksi dalam setiap kategori konten internet. Proses pencarian konten negatif berjalan lebih cepat dibanding sebelumnya dengan mesin ini.

Selain oleh Kemkominfo, mesin ini juga dikoordinasikan dengan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), BNN (Badan Narkotika Nasional) dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) untuk menyaring konten berbau teroris, investasi bodong, obat-obatan terlarang dan obat-obatan tidak berizin.

Pengoperasian mesin ini terletak di ruang pemantau Cyber Drone 9, lantai 8 Gedung Kementerian Kominfo. Lantai 8 ini juga terdapat ruang SIS Admin Room, Small Conference, SOC Room, dan War Room. Mesinnya sendiri tersebar di seluruh Indonesia dan dirahasiakan penempatannya guna kelancaran kegiatan crawling. Per 2018, Mesin AIS telah mendeteksi 120 ribu situs porno dari 1,2 juta alamat internet yang di-crawling.

Cara kerja Mesin AIS sebelum situs atau konten media sosial bisa dilenyapkan, ada proses berlapis yang dilakukan. Proses berlapis ini melibatkan mesin perayap (crawling) dan manusia. Pengendalian konten negatif yang diberi nama Trust+ yang berbasis pada teknologi Domain Name Server (DNS System) dimana mekanisme pemblokirannya hanya dapat dilakukan dengan menggunakan nama domain dan/atau nama server.

 

Arsitektur Sistem Pemantauan Proaktif AIS Cyber Drone 9

 

Proses pertama dilakukan oleh mesin dengan memasukkan kata kunci pencarian. Jika kata kunci sudah ditentukan, mesin pemburu bisa menarik jutaan konten dalam sekali kerja. Mesin sensor ini bisa merengkuh jutaan situs dan konten media sosial hanya lewat satu kata kunci. Kecepatan pengumpulan data sekitar 5 sampai 10 menit. Situs dan konten media sosial yang ditemukan ini lalu akan dilempar ke mesin pendamping. Tugas mesin pendamping ini adalah memilah mana situs dan konten yang relevan terhadap kata kunci. Mesin tersebut juga akan mengurutkan hasil pencarian berdasarkan dampaknya. Semakin viral atau populer suatu situs dan konten media sosial, semakin tinggi ia dinilai berbahaya oleh mesin itu.

Setelah dampak dihitung, selanjutnya mesin akan menangkap layar (screen-capture) situs dan media sosial yang terpindai mesin. Hasil tangkapan layar itu akan dikirim ke tim verifikator Cyber Drone 9. Tim verifikator akan jadi gerbang terakhir yang menentukan apakah situs atau media tadi pantas untuk disensor oleh pemerintah.

Akurasi Sistem AIS