Berita
Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Kota Tangerang -  Sebagai salah satu Kota yang terpilih yang akan mendapatkan pendampingan pelaksanaan gerakan menuju 100 smartcity. Kota Tangerang menyelenggarakan Bimtek penyusunan masterplan smartcity di balai kota Tangerang (8/8).

Walikota Tangerang Arief R Wimansyah dalam sambutannya menyampaikan bahwa  konsep Smart City menuntut adanya perubahan mindset tidak hanya dari masyarakat namun yang lebih utama adalah para pejabat dan aparat di lingkup Pemkot Tangerang. Pengembangan Smart city di Kota Tangerang terbagi dalam tiga tahapan, pertama Smart City 1.0 dimana kita mengintegrasikan setiap aplikasi pelayanan yang telah terbangun, kemudian disusul dengan Smart City 2.0 dimana program kita cerdas kita terfokus untuk peningkatan pelayanan publik, dan selanjutkan akan mengembangkan smart city 3.0 yang memanfaatkan teknologi geospasial sehingga pelayanan publik yang kita lakukan bisa tepat sasaran.

Kementerian Kominfo dalam pelaksanaan bimbingan teknis ini diwakili oleh Nova Zanda dan Dwi Elfrida dari Direktorat e-Government, serta Farid Subkhan CEO Citiasia selaku pembimbing penyusunan masterplan smartcity. Dalam bimtek penyusunan masterplan dilakukan inventarisasi potensi daerah inisitatif program yang kemudian dilakukan analisa SWOT untuk kebutuhan penyusunan masterplan serta quickwin untuk diterapkan di tahun 2017.  (nvz)

 

Tangerang Selatan -  Sebagai tindaklanjut pelaksanaan MoU Gerakan menuju 100 Smartcity, Kota Tangerang Selatan telah dilaksanakan bimbingan teknis tahap pertama penyusunan masterplan smartcity dan penentuan quickwin program smartcity bertempat di Kantor Pusat Pemerintahan Kota Tangerang Selatan (3/8).

Walikota Tangerang Airin Rachmi Diani yang juga hadir menyampaikan antara lain ”Smart city itu kan bukan hanya teknologi saja yang jadi tolak ukur. namun teknologi merupakan salah satu elemen penting yang tidak bisa dikesampingkan, dengan adanya bimbingan teknis ini tugas Pemkot Tangsel dapat  memaksimalkan pelayanan, dan mencari produk unggulan Kota Tangsel yang bisa membuktikan Kota Tangsel adalah Kota cerdas. Produknya bukan hanya barang atau aplikasi ya, melainkan kegiatan atau sisitem pelayanan yang output-nya itu inovatif.

Kementerian Kominfo diwakili oleh Nova Zanda dari Direktorat e-Government bersama dengan Teddy Sukardi praktisi TI selaku pembimbing penyusunan masterplan. Pelaksanaan bimbingan teknis yang diadakan oleh Dinas Kominfo Kota Tangerang Selatan dihadiri oleh perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Tangerang Selatan yang merupakan pelaksana teknis penyusunan masterplan smartcity. (nvz)

 

Jakarta – Bertempat di ruang Maladi Lantai 2 Kementerian Kominfo, Ditjen Aplikasi Informatika menyelenggarakan Rakor  internal Aksi kenaikan Peringkat Indonesia dalam  IDI (3/8). Sekretaris Ditjen Aptika, Mariam F Barata, mengundang Satuan kerja terkait yakni Biro Perencanaan, Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo, Direktorat Pengendalian, Badan Litbang, Sekretariat Ditjen Penyelenggaran Pos dan Informatika (Ditjen PPI) dan Pusat Kerjasama Internasional. 

Selama ini terdapat penilaian yang kurang tepat dari International Telecommunication Union (ITU) perihal kondisi Pembanguan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) Indonesia saat ini. Dimana penilaian IDI  Indonesia tahun 2016 tetap berada di posisi 115 dunia dengan nilai 3,86 dari 175 negara. Penilaian ITU berdasarkan indikator TIK yang disepakati secara internasional. Ini menjadikannya alat yang berharga untuk melakukan benchmark terhadap indikator terpenting untuk mengukur tingkat literasi dan kesenjangan digital sebuah negara. IDI adalah alat standar yang dapat dilakukan oleh pemerintah, operator, lembaga pembangunan, periset dan lainnya untuk mengukur kesenjangan digital dan membandingkan kinerja TIK di dalam dan di seluruh negara. Indeks Pengembangan TIK menurut ITU didasarkan pada 11 indikator TIK, yang dikelompokkan dalam tiga kelompok: akses, penggunaan dan keterampilan.

Kelemahan Indonesia yakni data yang masih belum terintegrasi, terdapat silo-silo informasi demikian dijelaskan oleh Sita Lhaksmi, tenaga ahli Ditjen Aptika. Terdapat  5 kuesioner yang selama ini diberikan ITU, dua diisi oleh BPS dan tiga diisi oleh Kominfo. Kuesioner yang diisi BPS adalah Household Short Questionnaire (deadline 26 Maret)  dan Household Long Questionnaire (deadline 3 September); sementara yang diisi oleh Kominfo adalah World Telecommunication/ ICT Indicators Short Questionnaire (deadline 2 April), World Telecommunication/ ICT Indicators Long Questionnaire (deadline 17 September) dan  ICT Price Basket Questionnaire (27 October).

Hal lain yang perlu ditindaklanjuti yakni koordinasi dan kesamaan data dari operator telekomunikasi yang menurut Peraturan Pemerintah Nomor: 52 Tahun 2000 deadlinenya adalah 31 April, sementara deadline dari ITU adalah 26 Maret 2017. Hal ini membuat pengumpulan data menjadi tidak bisa maksimal. Biro Perencanaan Kominfo merekomendasikan melakukan revisi Peremen tersebut atau membuat surat permintaan khusus setiap tahunnya. PDSI juga merekomendasikan agar menggandeng lembaga terkait seperti sinkronisasi data dan kerja bersama (working team) dengan instansi terkait seperti BPS, PANDI, dan Kemdikbud. (Mow).

 

Jakarta – Bertempat di ruang Amir Syarifudin Lantai 7  Kementerian Kominfo, Badan Pusat Statistik, dan Kemendikbud membahas Strategi Peningkatan IDI (ICT Development Indeks) Indonesia (9/8). Rapat dihadiri Satuan kerja terkait di lingkungan Kementerian Kominfo yakni Biro Perencanaan, Pusat Kerjasama Internasional Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo, Direktorat Pengendalian, , Sekretariat Ditjen Penyelenggaran Pos dan Informatika (Ditjen PPI) dan Ditjen Aplikasi Informatika (ditjen Aptika).

Ikhsan Baidirus, Kepala Pusat Kerjasama Internasional menyampaikan bahwa  agenda rapat pertama untuk koordinasi antar Kementerian/Lembaga terkait ICT Indicators, dimana perbedaan data yang signifikan menyebabkan kerugian turunnya peringkat IDI Indonesia di tahun 2016 dari tahun 2015. Sehingga kita perlu menentukan Lead Sector Penyusunan IDI dan sinkronisasi data.  Lebih lanjut Ikhsan menerangkan bahwa kerjasama dalam peningkatan Indonesia ICT Indeks dari ITU, diharapkan tidak hanya terjadi peningkatan hanya dalam bentuk angka, akan tetapi bagaimana membuat posisi Indonesia. Pembentukan Kelompok Kerja antar Kementrian dan Lembaga terkait dengan stakeholder dalam membuat one data tentang TIK yang nantinya bisa memberikan data yang diminta oleh ITU dan dalam jangka panjang menjadi rujukan dalam data TIK Nasional.

Dalam rangka mempersiapkan untuk pengisian data tahun 2017 yang akan dilaksanakan di tahun 2018, dimana pertengahan Agustus akan diadakan rapat sinkronisasi  data dengan BPS  berdasarkan ICT Indicators Long Questionnaire dan Household Long Questionnaire dari ITU. Sementara strategi yang akan ditempuh antara lain : 

  1. Penegasan tentang PP no 52 tahun 2000 tentang penyelenggaraan telekomunikasi, Kementerian Kominfo akan menyurati seluruh operator penyelenggara Jasa Telekomunikasi, Jaringan Telekomunikasi, dan penyiaran yang ditandatangani oleh Menteri Kominfo dimana selain mengisi LKO, agar mengsisi format isian data yang di minta oleh ITU dalam rangka Update data untuk ICT Development Indeks Indonesia ;
  2. Pada tanggal 11 Agustus 2017, Kementrian Kominfo akan mengadakan audiensi dengan Expert dari Eastonia tentang Mobile Data Positioning dengan K/L terkait. 
  3. Mengadakan MOU antara Kemnkominfo dengan BPS terkait TIK nasional yang akan difasilitasi oleh Biro Perencanaan, Kemenkominfo ;
  4. Pada tanggal 16 Agustus 2017, akan diadakan Confrence Call dengan ITU Senior Expert ( Miss Esperanza ) di ITU area office Jakarta 
  5. Menyelenggarakan Workshop dengan tema Strategi Peningkatan IDI (ICT Development Indeks) Indonesia dimana waktu dan tempat akan ditentukan kemudian.(mow)        

 

SALATIGA – Dalam mengimplementasikan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika nomor 11 Tahun 2016, Direktorat Pemberdayaan Industri Informatika bekerja sama dengan Educastudio untuk melakukan workshop pendaftaraan dan klasifikasi 100 Permainan Interaktif Elektronik (PIE) selama dua hari 31 Juli 2017 s.d 1 Agustus 2017 di Salatiga (1/8).

Kemkominfo diwakili oleh Bapak Milikta, Kasubdit Industri Konten Multimedia - Direktorat Pemberdayaan Industri Informatika membuka acara workshop  dan menyampaikan pentingnya klasifikasi PIE dimana dengan adanya klasifikasi usia sesuai dengan budaya Indonesia Pelaku Industri dapat membuat PIE sesuai dengan target market  yang mereka inginkan serta Masyarakat mendapatkan informasi kesesuaian kelompok usia PIE.

Educa Studio dan Keong Games merupakan developer game asal Salatiga yang sudah menghasilkan lebih dari 100 PIE edukasi dan pada workshop ini dilakukan membahas teknis penerapan Indonesia Game Rating Systemm (IGRS), pendaftaraan serta klasifikasi 100 PIE Educastudio dan Keong Games.

Acara ini diharapkan dapat memberikan referensi kepada masyarakat terkait PIE melalui http://igrs.id, sehingga Masyarakat dapat lebih bijak dalam memilih dan memainkan PIE (HBK).

 

My Twitter Updates


 

0