Berita
Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

 

Solo - “Pendaftaran sistem elektronik (SE) bertujuan untuk mendukung pemetaan sistem elektronik, manajemen aset, dan integrasi sistem, Pendaftaran SE juga amanat Peraturan Pemerintah No. 82 pasal 5 tahun 2012”, ujar Direktur e-Government pada kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Pendaftaran Sistem Elektronik untuk Pemerintah Provinsi, Kabupaten, dan Kota se-Jawa Tengan dan DI Yogyakarta yang berlangsung pada 1-2 November 2016 di Monumen Pers Solo. 

 

Jakarta -  Hari ini, Kamis (27/10) seluruh Fraksi di DPR RI melalui Sidang Paripurna di Gedung Nusantara II kompleks Parlemen telah menyetujui Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) untuk disahkan menjadi Undang-Undang Perubahan UU ITE. Rapat dipimpin oleh Wakil Ketua DPR. Menkominfo hadir dalam sidang mewakili Presiden Republik Indonesia melalui surat No R-79/Pres/12/2015 tertanggal 21 Desember 2015 dan di dalam surat tersebut Presiden menugaskan Menkominfo dan Menteri Hukum dan HAM, untuk mewakili Presiden melakukan pembahasan RUU tersebut bersama DPR RI untuk mendapatkan persetujuan bersama. Selain itu hadir pula Dirjen Aptika, Sesditjen Aptika serta segenap jajaran tim Penyusun RUU Perubahan UU ITE.

Jakarta -  Semuel A. Pangerapan, Direktur Jenderal Aptika, kembali menegaskan  “Fokus utama Ditjen Aptika untuk membangun ekonomi dijital”. Karena di dunia maya saat ini realita bukan lagi dunia yang terpisah dengan keseharian. Demikian disampaikan selaku narasumber pembahas Seminar Hasil Studi Puslitbang Aptika dan IKP (20/10). Bertempat di Gedung Anantakupa Kementerian Kominfo hasil studi tersebut dikemas dalam sebuah seminar bertema “Ekonomi Digital di Indonesia: Sebagai Pendorong Utama Pembentukan Industri Dijital Masa Depan.

Lebih lanjut Dirjen Aptika mengambil contoh pelaku ekonomi inovasi seperti UBER masih terbentur dengan kendala regulasi yang bersifat analog. Seharusnya sebuah inovasi dijital mempunyai multiplier effect, mampu mendorong sektor lain untuk menjadi digital, seperti layanan asuransi, e-payment sistem, dijital service. Kepala Pusat Litbang dan IKP, Wiryanta, menyampaikan bahwa tujuan  seminar agar dapat memperluas cakrawala peneliti tentang : gambaran potensi serta ekosistem industri digital, Perubahan sektor industri digital, memetakan komoditi perdagangan, dan sistem perlindungan konsumen. Peneliti dari Balitbang SDM, Karman, menyampaikan bahwa hasil Studi ini merupakan tindak lanjut dari hasil penelitian tentang E-Commerce yang dilakukan oleh Ditjen Aptika tahun 2015 tentang Proliferasi E-Commerce yakni dengan membagi kriteria penelitian menjadi 3 yakni, old model, new model, dan future model. Hasil studi menekankan pada dasar-dasar prediktif membangun future model e-Commerce.

Narasumber pembahas lainnya yakni Prof. Eko Budiharjo dari Universitas Indonesia, memaparkan bahwa idealnya sebuah inovasi harus berlandaskan penelitian dasar dan terapan. Contohnya physical medical record yang dikembangkan Kemenkes, pertanian dan nelayan yang lebih cocok menggunakan teknologi LTE daripada 4G.  Selain itu Prof. Eko juga menjelaskan bahwa keamanan informasi dalam bertransaksi elektronik harus jelas dan berdasarkan hukum. Ibu Seli Hutapea perwakilan dari Bank Indonesia membahas peluang dari sektor digital ekonomi,   adanya   regulasi   Bank Indonesia yang mengatur   pembayaran   National   Payment   Getaway diharapkan akan diperkenalkan dalam waktu dekat. Seli juga menyampaikan dukungan dari Bank Indonesia kepada pelaku E-commerce agar terus dapat tumbuh dan berkembang.  Hadir juga perwakilan dari KEIN (Komite Ekonomi Dan Industri Nasional), Benny Pasaribu, menjelaskan tujuan KEIN adalah memajukan perekonomian ditengah persaingan global karena Indonesia harus fokus kepada pembangunan industri nasional berbasis sumberdaya ekonomi yang melimpah, yakni, sumberdaya alam dan sumber daya manusia. Sementara Ignatius Untung dari idEA, menyampaikan keunggulan dari E-commerce yaitu: Geolimitless, Timelimitless 24/7, Trackable dan Efficient. (mow)

Yogyakarta - Dirjen Aptika Kementerian Kominfo Semuel A. Pangerapan Aptika menegaskan bahwa pemerintah tetap komitmen dalam mendukung Program 1000 Startup Digital untuk pengembangan e-commerce di Indonesia. "Pemerintah serius dalam mendorong program ini, bahkan saat ini sedang dipersiapkan paket ekonomi mengenai e-commerce” ungkapnya dalam Hacksprint 1000 Startup Digital di Grha Sabha Pramana Universitas Gajah Mada Yogyakarta (22/10).

Untuk tahapan Gerakan Nasional 1000 Startup Digital ada lima tahapan sistematis yaitu Ignition, Workshop, Hackathon, Bootcamp dan Inkubasi. Saat ini tahapan Gerakan Nasional 1000 Startup Digital sudah memasuki tahap Hackhathon. Perserta yang masuk ke dalam tahap Hackathon adalah mereka yang lolos seleksi dari tahap Workshop. Dalam kegiatan hacksprint ini, peserta Gerakan Nasional 1000 Startup Digital harus membuat sekitar 40 sampai 50 tim yang masing-masing terdiri dari tiga orang: Hustler (marketing), Hacker (developer), dan Hipster (design grafis), yang membuat prototype product startup mereka. Mereka kemudian akan melakukan pitching di hadapan juri dan akan dicari tiga ide terbaik untuk mendapatkan reward dari Gerakan Nasional 1000 Startup Digital.

Tahapan Hackhathon dalam Gerakan Nasional 1000 Startup Digital ini disebut Hacksprint. Hacksprint adalah versi baru dari Hackathon, yang dikemas lebih terstruktur dan terarah dengan menggunakan metode design sprint. Dalam hacksprint, programmer membuat protipe produk startup digital dengan langkah-langkahnya mulai dari understand, define, diverge, decide, protype, dan validate.

Perhelatan Hacksprint Gerakan Nasional 1000 Startup Digital Yogyakarta menjaring 25 tim yang berkompetisi dan kemudian memilih tiga tim terbaik yaitu Roster, Botika, dan Wazte. Sebagai tim terbaik pertama Roster menawarkan solusi memberi pakan ayam broiler otomatis dan terintegrasi IoT, sehingga peternak bisa menjadwal pemberian makanan secara teratur. Tim terbaik kedua, Botika adalah chatbot dengan artificial inteligence Natural Language Processing (NLP) yang melayani percakapan casual dalam bahasa Indonesia B2C dan B2B. Sedangkan Wazte merupakan aplikasi bank sampah virtual untuk menukar sampah terpilah dengan uang elektronik yang bisa dibelanjakan online.(mow)

Jakarta – Bertempat di ruang serbaguna Kominfo, Semuel A. Pangerapan, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, menyampaikan keinginannya untuk Indonesia menuju ke masyarakat dijital (18/10). Dirjen yang baru dilantik tanggal 7 Oktober 2016 ini mengajak seluruh pegawai APTIKA untuk tidak bekerja hanya menggunakan internet namun bekerja bersama dengan internet. Sehingga Ditjen Aptika tidak hanya mengerjakan pembangunan internet dengan menerapkan e-Government, e-Business dan lainnya. Namun saatnya kita memulai bekerjasama dengan internet,membangun network,protokol jaringan kerja yang efektif . Demikian disampaikan pada acara serah terima jabatan Direktur Jenderal Aptika dari Plt.Dirjen Aptika Mariam F Barata kepada Semuel A. Pangerapan.

Acara serah terima jabatan ini dihadiri oleh seluruh pejabat dan staff di lingkungan Ditjen Aplikasi dan Informatika.  Sekretaris Ditjen Aptika, Mariam F. Barata, dalam laporan menyampaikan antaralain:

  1. 1.    Struktur organisasi Ditjen Aplikasi dan Informatika dan memperkenalkan pejabat penanggungjawabnya.
  2. 2.    Program utama Kementrian Komunikasi dan Informatika dan keterkaitannya dengan Rencana Strategis (Renstra) Ditjen Aplikasi dan Informatika tahun 2015-2019.
  3. 3.    Program-program prioritas Ditjen APTIKA tahun 2016.
  4. 4.    Postur pagu Ditjen APTIKA dan realisasi dari tahun 2013 hingga bulan Oktober 2016.
  5. 5.    Data kepegawaian yang terdiri dari PNS dan PPNPN yang totalnya berjumlah 355 orang.

Bapak Dirjen Aptika yang akrab dipanggil Pak Semi ini selanjutnya membuka diskusi dengan seluruh pegawai di lingkungan Ditjen Aptika. Beberapa pertanyaan antaralain dari Luat Sihombing yang mengharapkan dukungan  Indonesia Game Rating Sistem (IGRS) sebagai panduan Games di Indonesia. Sementara Riki Arif Gunawan selaku penangggungjawab kegiatan tandatangan digital  mempertanyakan “Bagaimana strategi mengembangkan tandatangan digital”. Menjawab pertanyaan tersebut Bapak Dirjen menyatakan bahwa dengan latar belakang bisnis maka seharusnya program pemerintah harus mempertimbangkan juga pemikiran masyarakat dan bisnis yakni, “Apa manfaat (benefit) yang dapat kami peroleh dengan mengikuti program-program tersebut? “.

Nizam Waham dari Direktorat E-Bisnis menyampaiakan saat ini terdapat peningkatan pendaftaran sertifikasi elektronik sehingga berjumlah 133 PSE, sementara Sedi Priaagusman dari Direktorat E-Government memohon agar Dirjen Aptika dapat  membantu menyamakan persepsi audit sertifikasi elektronik dengan para stakeholders. Pak Semi mengharapkan bahwa ke depan peran Ditjen Aptika semakin dirasakan dan dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan Aplikasi-aplikasi yang membantu kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa serta mewujudkan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi dijital terbesar di Asia Tenggara tahun 2020. (mow)

 

 

My Twitter Updates