Berita
Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Bali – Komunitas TIK yang didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika sebagai leading sektor  di bidang  komunikasi  dan informatika berkomitmen dalam melindungi infrastruktur kritis dari serangan siber dalam Simposium Perlindungan  Infrastruktur Informasi Kritis pada sektor TIK, atau CIIP-ID Summit 2018.(19/9).   Kegiatan yang diinisiasi oleh PT Xynexis  International dan Komunitas TIK yang didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika sebagai leading sector  di bidang  komunikasi  dan informatika.  Tema  kegiatan  pada 2018 ini yaitu "Strengthening Multi-Stakeholder Coordination and Improving ICT Sector-Wide Resilience  in   Preparation   for   Cyber   Disruptions".   

Bertempat di The Trans Resort Hotel-Seminyak Bali, CIIP-ID Summit tahun 2018 ini merupakan penyelenggaraan  untuk ke-3 kalinya setelah sebelumnya diadakan di Bali pada 2016 dan Yogyakarta pada 2017. Riki Arif Gunawan selaku Plt. Direktur Pengendalian Aptika dalam laporan kegiatan   menyampaikan   tujuan simposium  untuk meningkatkan  pengetahuan  dan pemahaman serta berbagi informasi mengenai teknologi, best practice, solusi dan penerapan Cyber Security dari industri Cyber Security profesional kepada organisasi  dari sektor TIK  dan juga  informasi  dari lembaga-Iembaga  teknis  dan akademisi mengenai kesiapan dan komitmen mereka secara aktif dalam mendukung penerapan cyber security di sektor TIK. 

Dirjen Aptika, Semmuel Abrijani Pangerapan,dalam pembukaan menyampaikan pesan bahwa saat ini perkembangan Siber Security sangat dinamis, bahkan makin banyak tantangan ke depan sehingga tidak dapat ditangani secara terpisah namun perlu kerjasama. Bagaimana kita membangun kemitraan yakni dengan trust (kepercayaan) dan mengesampingkan egosektoral untuk kepentingan merah putih (nasional NKRI). Keynote dari BSSN, Joko Setiadi, menyampaikan penghargaan atas kepercayaan yg diberikan kepada BSSN, namun  mengamini pesan Dirjen Aptika bahwa keamanan siber merupakan kerja bersama. Karena BSSN bukanlah lembaga superbodi dan insiden akan selalu terjadi sehingga kita harus selalu siap menanggapi. 

Rangkaian symposium sekaligus meresmikan komunitas ICT-ISAC (Information Sharing and Analysis Centre) yang merupakan forum instansi pengatur sektor TIK. Lembaga ini mempunyai tugas pokok dan fungsi di bidang keamanan siber dan penyelenggaraan system elektronik layanan publik pada sector TIK seperti ISP, Operator Telekomunikasi, Penyedia Layanan Pusat Data, dan Penyedia Layanan Cloud. ICT-ISAC hadir dengan anggota antara lain : 

  •            PT. Telkom
  •        PT. Telekomunikasi Selular
  •            PT. Indosat
  •            PT. XL Axiata
  •            PT. Smart Telecom
  •        PT. Xynesis International
  •            APJII
  •          PwC
  •          PANDI
  •          PT. Aplikasinusa Lintasarta
  •          PT. Data Sinergitama Jaya
  •          PT. Sampoerna Telematika

 

Dalam sesi diskusi peserta menanyakan tentang strategi mencegah  serangan ke IP Dinamic Broadband dan kesiapan pemerintah melakukan Maping IP. Memang belum ada maping IP Broadband Nasional dan upaya tersebut memerlukan usaha dan waktu untuk mengumpulkan dalam sebuah big data. Menyambung pertanyaan pertama, peserta ke-2,  apakah ada penyimpanan big data atau cloud di Indonesia.  Saat ini Pemerintah telah menyiapkan regulasi Pereaturan Pemerintah (PP) nomor 82 yang memuat 3 jenis klasifikasi data : data strategis wajib ada di Indonesia yang menyangkut kepentingan nasional dana tau menyangkut hajat hidup orang banyak(publik), data resiko tinggi, dan data resiko rendah. UU ITE termasuk UU yang bersifat ekstra progresif atau berlaku ekstra territorial sehingga  bisa mengejar pelaku cybercrime di luar negeri.(mow)

My Twitter Updates